Dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan energi di sektor industri Indonesia mengalami peningkatan seiring pertumbuhan ekonomi dan ekspansi produksi. Namun, peningkatan ini turut mendorong kenaikan emisi gas rumah kaca, yang memperburuk dampak perubahan iklim. Berdasarkan laporan Institute for Essential Services Reform (IESR), sektor industri nasional masih sangat bergantung pada sumber energi fosil, dengan 56,9 persen energinya berasal dari batu bara, 21,6 persen dari gas alam dan LPG, serta 5,1 persen dari minyak.
Ketergantungan besar terhadap energi fosil menyebabkan emisi gas rumah kaca dari sektor industri terus melonjak. Meskipun berbagai inisiatif pengurangan emisi telah diluncurkan, implementasinya belum menunjukkan hasil yang memadai. Sumber energi utama yang digunakan masih tergolong sebagai penyumbang emisi tinggi, dan adopsi teknologi rendah emisi belum berkembang signifikan.
Upaya dekarbonisasi menghadapi banyak tantangan, salah satunya adalah kebijakan harga khusus batu bara atau Domestic Market Obligation (DMO) yang membuat batu bara tetap menjadi pilihan utama karena harganya yang murah. Selain itu, lambannya adopsi teknologi rendah karbon dan kurangnya investasi dalam energi terbarukan turut memperlambat proses transisi menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk mendorong transisi energi, termasuk insentif penggunaan energi terbarukan dan regulasi emisi. Namun, tanpa keterlibatan aktif sektor swasta dalam investasi teknologi bersih dan inovasi industri hijau, target dekarbonisasi akan sulit tercapai. Kerja sama lintas sektor menjadi krusial untuk mempercepat proses perubahan.
Transformasi energi industri tidak hanya soal kebijakan dan teknologi, tetapi juga membutuhkan peningkatan kesadaran publik dan pelaku industri akan urgensi krisis iklim. Edukasi berkelanjutan dan dorongan untuk mengadopsi praktik ramah lingkungan harus diperkuat untuk menciptakan tekanan sosial dan politik terhadap akselerasi transisi energi.
Masa depan dekarbonisasi di sektor industri akan sangat ditentukan oleh kemampuan Indonesia melepaskan diri dari ketergantungan pada energi fosil dan mempercepat penggunaan energi bersih. Meskipun tantangannya besar, peluang untuk menciptakan ekosistem industri rendah karbon terbuka lebar jika didukung oleh kebijakan yang tepat, investasi berkelanjutan, dan komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan.
