Harga batu bara akhirnya bangkit setelah terpuruk dan tak mampu menguat selama 11 hari berturut-turut. Kenaikan ini sekaligus memutus tren negatif yang sudah menekan harga batu bara dalam hampir dua pekan terakhir.
Sampai perdagangan Jumat lalu, harga batu bara tercatat melemah 7,1% dalam 11 hari perdagangan. Dalam periode itu, harga turun sebanyak 10 kali dan stagnan sehari. Rentetan pelemahan ini menjadi yang terburuk sejak November 2024, sehingga kenaikan pada awal pekan ini memberi angin segar bagi pasar.
Kebangkitan harga batu bara tak lepas dari meningkatnya permintaan China sebagai konsumen terbesar komoditas tersebut. Pemulihan ekonomi di Negeri Tirai Bambu membuat kebutuhan energi melonjak, sementara pemerintah setempat masih mengandalkan batu bara sebagai sumber energi utama. Hal ini mendorong kenaikan harga di pasar internasional setelah sebelumnya tertekan oleh lesunya permintaan global.
Kebijakan pemerintah China yang tetap menempatkan batu bara sebagai pilar energi nasional memberikan dorongan signifikan terhadap pasar global. Peningkatan permintaan dari China memberi harapan baru bagi produsen yang sempat terpukul akibat lemahnya permintaan di negara lain.
Meski harga mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, para pelaku pasar tetap perlu mewaspadai faktor eksternal, mulai dari dinamika kebijakan energi global, perlambatan ekonomi dunia, hingga perkembangan energi terbarukan. Namun untuk jangka pendek, prospek harga batu bara masih cukup positif dengan adanya dukungan permintaan dari China.