Industri kilang minyak dan gas (migas) memegang peranan vital dalam pelaksanaan kebijakan hilirisasi yang tengah digencarkan pemerintah. Aktivitas hilirisasi di sektor migas bahkan telah berlangsung lama, jauh sebelum kebijakan resmi diterapkan. Kilang migas berfungsi tidak hanya mengolah bahan baku menjadi produk bernilai tambah, tetapi juga sebagai penggerak utama dalam pertumbuhan ekonomi nasional.
Pemerintah menekankan pentingnya hilirisasi sebagai strategi untuk meningkatkan nilai tambah produk domestik. Kilang migas menjadi sektor prioritas, karena pengolahan minyak mentah menjadi bensin, solar, dan produk petrokimia lainnya secara langsung memperkuat ekonomi dan mengurangi ketergantungan impor. Hilirisasi ini juga menjadi salah satu pilar utama dalam upaya mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen sebagai bagian dari visi Indonesia Emas 2045.
Demi mendukung hilirisasi, pemerintah bersama perusahaan migas nasional dan internasional telah menyalurkan investasi besar untuk modernisasi kilang. Proyek pengembangan kilang baru dan peningkatan teknologi kilang lama bertujuan meningkatkan kapasitas, efisiensi, dan kualitas produk migas dalam negeri.
Kehadiran kilang migas yang modern memberi dampak positif lebih luas. Selain memperkuat sektor energi, kilang migas menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan daerah, dan mendorong pertumbuhan industri pendukung. Dengan mengurangi impor, Indonesia juga mampu memperkuat posisi tawar di pasar global.
Meskipun menjanjikan, industri kilang migas menghadapi tantangan seperti fluktuasi harga minyak dunia, kebijakan energi global, dan dorongan untuk beralih ke energi terbarukan. Namun, dengan strategi yang tepat dan dukungan berbagai pihak, sektor ini tetap dapat menjadi fondasi hilirisasi nasional dan mendorong pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Industri kilang migas menjadi elemen krusial dalam mendukung kebijakan hilirisasi nasional. Dengan modernisasi, investasi, dan strategi tepat, kilang migas mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, mengurangi ketergantungan impor, serta berkontribusi pada tercapainya visi Indonesia Emas 2045.