Pelaku industri oleokimia saat ini menghadapi kekhawatiran besar akibat keterbatasan pasokan gas murah. Kondisi ini berpotensi mengganggu kelancaran bisnis, mengingat gas merupakan sumber utama yang menopang aktivitas produksi di sektor tersebut.
Minimnya pasokan gas diprediksi tidak hanya menekan kapasitas produksi, tetapi juga meningkatkan biaya operasional. Para produsen kemungkinan harus mencari sumber energi alternatif dengan harga lebih tinggi agar proses produksi tetap berjalan. Situasi ini tentu bisa memengaruhi harga produk akhir serta mengurangi daya saing industri oleokimia di pasar global.
Ketua Umum Apolin, Norman Wibowo, menyatakan keprihatinannya atas langkah produsen gas yang berencana menurunkan pasokan gas HBGT. Ia menegaskan bahwa gas bumi bagi industri oleokimia tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi, melainkan juga sebagai bahan penolong penting dalam memproduksi gas hidrogen yang tidak dapat digantikan oleh sumber lain. Oleh karena itu, keterbatasan pasokan gas dapat berdampak langsung terhadap keberlangsungan industri.
Apolin bersama para pelaku industri mendesak pemerintah agar segera mencari solusi untuk menjamin ketersediaan pasokan gas. Mereka menekankan pentingnya stabilitas suplai energi demi menjaga keberlanjutan sektor oleokimia yang selama ini berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional.
Di tengah ketidakpastian, beberapa perusahaan mulai meninjau opsi penggunaan energi alternatif, seperti biomassa dan sumber energi terbarukan. Meski demikian, peralihan ini memerlukan investasi besar serta waktu adaptasi. Karena itu, solusi jangka pendek dari pemerintah sangat dibutuhkan.
Krisis pasokan gas menegaskan pentingnya kolaborasi erat antara pemerintah, penyedia energi, dan industri. Inovasi teknologi dan diversifikasi energi menjadi jalan jangka panjang, sementara keberlangsungan pasokan gas murah tetap krusial bagi kelangsungan industri oleokimia di Indonesia