Harga batu bara melanjutkan tren kenaikan dengan menguat selama tiga hari berturut-turut. Merujuk data Refinitiv, pada perdagangan Rabu (20/8/2025) harga batu bara ditutup di level US$ 111,5 per ton, naik 0,45%.
Salah satu faktor utama yang mendorong penguatan harga adalah meningkatnya kebutuhan energi dari China. Sebagai konsumen batu bara terbesar di dunia, China terus menambah impor untuk memenuhi kebutuhan domestik yang tinggi. Lonjakan permintaan ini membuat pasar global kembali bergerak positif.
Selain China, kebijakan energi di Amerika Serikat juga memberikan dorongan tambahan. Meski negara tersebut tengah berupaya meningkatkan porsi energi bersih, batu bara masih memegang peranan penting dalam bauran energinya. Kondisi ini menambah optimisme pasar batu bara internasional.
Kendati tren penguatan masih berlanjut, prospek ke depan tidak sepenuhnya mulus. Sentimen negatif terkait transisi energi global ke sumber energi terbarukan dapat menjadi faktor penekan harga dalam jangka menengah hingga panjang.
Kenaikan harga batu bara selama tiga hari terakhir mencerminkan kuatnya pengaruh China dan Amerika Serikat terhadap pasar global. Meski saat ini tren positif masih berlanjut, pelaku pasar perlu mencermati arah kebijakan energi dunia yang berpotensi mengubah dinamika harga komoditas ini