Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan memberikan izin bagi pembangunan pembangkit listrik tenaga surya maupun tenaga angin, meskipun sejumlah wilayah di AS kini menghadapi permintaan listrik yang lebih tinggi daripada pasokan. Melalui unggahan di platform Truth Social pada Rabu (20/8/2025) waktu setempat, Trump menulis, “Kami tidak akan menyetujui tenaga angin atau tenaga surya yang merusak lahan pertanian.” Ia juga berulang kali menyampaikan keluhannya bahwa proyek surya membutuhkan terlalu banyak lahan. Dengan tegas, ia menambahkan, “Hari-hari kebodohan sudah berakhir di Amerika Serikat!!!”
Trump sejak lama dikenal berpihak pada industri bahan bakar fosil. Saat menjabat presiden sebelumnya, ia kerap menolak kebijakan energi terbarukan dengan alasan efisiensi dan dampak ekonomi. Keputusannya menarik AS dari Perjanjian Paris pun menjadi simbol penolakannya terhadap agenda global pengurangan emisi karbon.
Pernyataan Trump menuai pro-kontra. Para pendukung energi hijau menilai kebijakan ini berisiko menghambat inovasi teknologi ramah lingkungan, padahal sektor tersebut berpotensi menciptakan lapangan kerja baru dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Sebaliknya, para simpatisan Trump melihat langkah ini sebagai upaya menjaga lahan pertanian serta melindungi industri tradisional agar tetap bertahan dalam persaingan global.
Penolakan ini diperkirakan akan memperlambat ekspansi energi surya dan angin di Amerika Serikat. Perusahaan yang telah berinvestasi besar dalam teknologi hijau berpotensi menghadapi hambatan tambahan dari sisi regulasi dan dukungan pemerintah. Di sisi lain, sikap Trump bisa memperkuat dominasi bahan bakar fosil, tetapi sekaligus menimbulkan risiko terhadap posisi AS dalam kerja sama internasional menghadapi krisis iklim.
Dengan sikap tegas Trump, arah kebijakan energi AS kembali dipertaruhkan. Pertarungan antara melindungi industri lama dan mendorong transisi ke energi terbarukan akan terus mewarnai perdebatan publik. Apapun keputusan yang diambil, dampaknya akan berimbas luas pada ekonomi, lingkungan, dan peran Amerika Serikat dalam upaya global melawan perubahan iklim.