Harga batu bara global mengalami penurunan setelah sebelumnya mencatat kenaikan selama tiga hari berturut-turut. Berdasarkan data Refinitiv, pada perdagangan Kamis (21/8/2025), harga batu bara ditutup di level US$ 110 per ton, menguat 1,25% dibandingkan perdagangan sebelumnya. Meski demikian, tren positif sebelumnya yang mencatat kenaikan 2,2% terhenti akibat melemahnya permintaan dari China.
China, sebagai salah satu penopang utama harga batu bara, mulai menurunkan pembelian. Data dari Sxcoal menunjukkan harga batu bara termal di wilayah penghasil utama Tiongkok mulai melemah karena penyerapan (offtakes) yang menurun dan pengadaan yang lebih berhati-hati dari pengguna akhir.
Beberapa laporan mengungkapkan bahwa permintaan domestik China melemah sementara cadangan batu bara di tambang dan pelabuhan meningkat. Kondisi ini membuat pembeli, termasuk pembangkit listrik, menunda pembelian untuk mengurangi risiko fluktuasi harga.
Melemahnya permintaan dari China memengaruhi produsen batu bara di seluruh dunia. Para pelaku industri harus menyesuaikan strategi, baik dengan mengurangi produksi maupun mencari pasar alternatif, untuk menahan tekanan penurunan harga.
Penurunan harga batu bara yang dipicu oleh melemahnya permintaan China menandai ketidakpastian di pasar global. Para pelaku industri perlu tetap waspada dan adaptif menghadapi dinamika harga yang dipengaruhi faktor domestik maupun internasional.