Harga batu bara global kembali menunjukkan tren positif dengan menguat tiga hari berturut-turut. Berdasarkan data Refinitiv, pada perdagangan Rabu (20/8/2025), harga batu bara ditutup di US$ 111,5 per ton, naik 0,45%. Tren kenaikan ini memperpanjang penguatan selama tiga hari menjadi 2,26%.
Kenaikan harga batu bara kali ini sebagian besar didorong oleh permintaan yang kuat dari China dan Amerika Serikat. China, sebagai salah satu konsumen utama batu bara dunia, tetap menjaga tingkat pembelian tinggi untuk memenuhi kebutuhan energi domestiknya. Sementara itu, sinyal positif dari Amerika Serikat turut mendukung pasar, meski negara ini berupaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Meski kenaikan harga memberikan keuntungan bagi negara pengekspor seperti Indonesia, sentimen negatif masih menghantui pasar batu bara ke depan. Faktor-faktor seperti perubahan kebijakan energi global, perkembangan teknologi energi terbarukan, serta dinamika ekonomi internasional berpotensi memengaruhi stabilitas harga.
Pergerakan harga batu bara yang dipengaruhi China dan Amerika Serikat menegaskan peran penting kedua negara dalam pasar energi global. Meski tren saat ini positif, pelaku industri dan negara pengimpor tetap harus waspada terhadap fluktuasi harga dan mulai mempertimbangkan strategi diversifikasi energi untuk menghadapi ketidakpastian di masa mendatang.