Pembakaran sisa tanaman masih menjadi metode yang kerap digunakan petani untuk membersihkan lahan dengan cepat. Namun, praktik ini membawa dampak serius, tidak hanya pada kualitas udara, tetapi juga pada keanekaragaman hayati mikroba dan keseimbangan agroekologis. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam Science of the Total Environment menegaskan bahwa pembakaran residu tanaman dapat memicu penurunan kualitas tanah sekaligus mengganggu rantai ekosistem yang lebih luas.
Mikroba tanah seperti bakteri dan jamur berfungsi penting sebagai pengurai bahan organik, pendukung siklus nutrisi, serta peningkat struktur tanah. Mereka juga membantu tanaman menyerap nutrisi dan melindungi dari serangan patogen. Keberagaman mikroba ini menjadi fondasi bagi kesehatan tanah dan ketahanan pertanian jangka panjang.
Suhu tinggi saat pembakaran dapat membunuh mikroba yang sensitif dan mengubah struktur komunitas mikroba tanah. Lebih jauh lagi, studi tersebut menemukan bahwa praktik ini menurunkan kandungan bahan organik, melemahkan nutrisi tanah, dan pada akhirnya mengurangi produktivitas pertanian. Tidak hanya itu, polusi udara yang dilepaskan dari asap pembakaran dapat mengganggu fungsi ekologis artropoda serta burung, bahkan memicu ledakan populasi hama yang merugikan lahan pertanian.
Kerusakan komunitas mikroba dan terganggunya rantai ekologi berdampak pada menurunnya kapasitas tanah dalam menyimpan karbon, meningkatkan erosi, serta mempercepat degradasi lahan. Akibatnya, ketahanan pangan jangka panjang terancam dan risiko perubahan iklim semakin besar.
Untuk mengurangi dampak buruk tersebut, diperlukan metode alternatif yang lebih berkelanjutan. Pengomposan residu tanaman dapat menambah bahan organik sekaligus mendukung mikroba tanah. Selain itu, penerapan praktik pertanian konservasi seperti rotasi tanaman dan penanaman tanaman penutup dapat menjaga keseimbangan agroekosistem tanpa merusak lingkungan.
Kesadaran akan bahaya pembakaran sisa tanaman perlu terus ditingkatkan. Dengan mengganti metode lama dengan praktik ramah lingkungan, ekosistem tanah dapat dilestarikan, keanekaragaman hayati mikroba tetap terjaga, dan risiko wabah hama dapat ditekan. Kolaborasi antara petani, peneliti, dan pembuat kebijakan menjadi kunci untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan dan menjaga kesehatan ekosistem bagi generasi mendatang.