Pertamina mencatat sejarah baru dengan meluncurkan Sustainable Aviation Fuel (SAF), bahan bakar ramah lingkungan berbasis minyak jelantah. Penerbangan perdana menggunakan SAF ini dilakukan oleh maskapai Pelita Air pada rute Jakarta–Bali dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Inovasi ini menjadi yang pertama hadir di Asia Tenggara, sekaligus menegaskan komitmen Indonesia dalam mendukung transisi energi bersih di sektor penerbangan.
SAF adalah bahan bakar alternatif untuk pesawat yang diproduksi dari sumber daya terbarukan. Berbeda dengan bahan bakar fosil konvensional, SAF mampu memangkas emisi karbon secara signifikan. Kehadirannya menjawab kebutuhan industri penerbangan global yang tengah didesak untuk menekan jejak karbon.
Pertamina memproduksi SAF dengan memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan baku utama. Teknologi yang digunakan memastikan kualitas bahan bakar tetap sesuai standar internasional. Selain mendukung pengurangan emisi, penggunaan bahan baku lokal ini membuka peluang ekonomi baru, mulai dari rantai pasok pengumpulan minyak jelantah hingga lapangan kerja di sektor energi hijau.
Pemerintah Indonesia mendukung penuh langkah Pertamina ini karena dinilai mampu memperkuat daya saing penerbangan nasional. Pertamina juga tengah memperluas kolaborasi internasional agar SAF dapat diadopsi secara lebih luas oleh maskapai-maskapai dunia. Dengan langkah ini, Indonesia berpotensi menjadi pusat pengembangan SAF di kawasan Asia Tenggara.
Pemanfaatan SAF memberi dampak positif ganda: lingkungan yang lebih bersih serta pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Dengan mengurangi emisi gas rumah kaca, SAF membantu industri penerbangan mencapai target keberlanjutan. Sementara dari sisi ekonomi, produksi SAF berbasis sumber daya lokal mendorong perputaran usaha di dalam negeri.
Meski prospeknya menjanjikan, pengembangan SAF masih menghadapi tantangan, terutama pada biaya produksi yang lebih tinggi dibandingkan bahan bakar konvensional. Namun, seiring peningkatan skala produksi dan riset teknologi, biaya diperkirakan akan menurun.
Dengan penerbangan perdana Pelita Air yang menggunakan SAF, Indonesia resmi menorehkan sejarah sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang mengoperasikan penerbangan dengan bahan bakar ramah lingkungan ini. Langkah Pertamina tidak hanya menandai kemajuan dalam dunia energi bersih, tetapi juga menjadi simbol masa depan penerbangan yang lebih hijau, efisien, dan berkelanjutan.