China, negara dengan populasi terbesar di dunia, kembali menunjukkan komitmennya dalam menekan emisi karbon melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang diklaim sebagai terbesar di dunia. Proyek ini akan membentang di dataran tinggi Tibet dengan luas sekitar 610 kilometer persegi, menjadikannya salah satu proyek energi terbarukan paling ambisius di planet ini.
Hingga kini, panel surya telah dipasang di sekitar dua pertiga dari lahan yang direncanakan. Setelah rampung, fasilitas ini diperkirakan memiliki lebih dari 7 juta panel surya dan mampu memasok energi listrik bagi sekitar 5 juta rumah tangga. Dengan kapasitas puluhan gigawatt, PLTS ini akan secara signifikan mengurangi ketergantungan China pada bahan bakar fosil.
Pemerintah China memberikan dukungan penuh melalui kebijakan, regulasi, dan pendanaan untuk mempercepat pembangunan. Investasi besar-besaran dari perusahaan energi domestik juga mempercepat proses instalasi, sekaligus memperlihatkan betapa cepatnya China menambah kapasitas energi bersih dibandingkan negara lain di dunia.
Selain menekan emisi gas rumah kaca, proyek ini juga diperkirakan menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di Tibet. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam memastikan infrastruktur dapat bertahan lama serta beradaptasi dengan kondisi iklim ekstrem di dataran tinggi. Untuk itu, para insinyur dan ilmuwan terlibat dalam pengembangan teknologi panel yang lebih efisien dan tahan cuaca.
Pembangunan PLTS raksasa ini memperlihatkan keseriusan China dalam memimpin transisi energi global. Dengan proyek yang akan menyalurkan energi bersih untuk jutaan rumah tangga, China tidak hanya memperkuat posisinya sebagai pengembang energi surya terbesar di dunia, tetapi juga memberi contoh nyata bagi negara lain dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.