Tahun 2025 dibayangi ketegangan geopolitik global tak berkesudahan. Perang Ukraina–Rusia masih berlangsung, konflik di Timur Tengah kian memanas, dan perang dagang Amerika Serikat (AS)–Cina terus berlanjut. Situasi ini berpotensi mengguncang pasar energi dunia, termasuk Indonesia. Dalam kondisi demikian, transisi energi tidak lagi sekadar wacana lingkungan, tetapi menjadi kebutuhan strategis untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Konflik antarnegara dan persaingan geopolitik kerap mengganggu stabilitas pasokan energi. Ketergantungan pada impor dari negara-negara yang terlibat konflik berisiko mengancam keamanan energi. Oleh karena itu, pengembangan energi terbarukan merupakan solusi yang harus dipercepat agar Indonesia tidak terlalu terpengaruh oleh gejolak global.
Hingga kini, minyak bumi, gas, dan batu bara masih mendominasi bauran energi nasional. Padahal, ketergantungan pada energi fosil tidak hanya membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga global, tetapi juga menambah beban lingkungan akibat emisi yang dihasilkan.
Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar—mulai dari tenaga surya, angin, hingga panas bumi. Namun, pemanfaatannya masih terbatas. Hambatan yang dihadapi antara lain minimnya investasi, infrastruktur yang belum memadai, serta regulasi yang belum sepenuhnya mendukung percepatan pengembangan energi hijau.
Untuk mendorong percepatan transisi energi, ada beberapa langkah penting yang perlu diambil. Pertama, memperkuat regulasi dan kebijakan yang mendukung energi terbarukan. Kedua, meningkatkan investasi dalam teknologi dan infrastruktur pendukung. Ketiga, membangun kerja sama dengan sektor swasta maupun mitra internasional guna mempercepat transfer teknologi dan keahlian.
Transisi energi tidak akan berhasil tanpa dukungan masyarakat. Edukasi dan kampanye publik perlu ditingkatkan agar masyarakat terdorong menggunakan energi ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran kolektif inilah yang akan memperkuat keberhasilan program energi berkelanjutan.
Gejolak politik global harus menjadi alarm bagi Indonesia untuk tidak menunda transisi energi. Dengan potensi yang dimiliki, Indonesia berpeluang menjadi motor penggerak energi bersih di Asia Tenggara. Namun, keberhasilan itu hanya dapat dicapai dengan komitmen serius dari pemerintah, sektor swasta, hingga masyarakat. Transisi energi bukan sekadar mengganti sumber daya, melainkan membangun masa depan yang berdaulat, mandiri, dan berkelanjutan.