Eramet Indonesia memprediksi konsumsi nikel untuk baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) akan mencapai 1,7 juta ton pada 2035, melonjak 176% dibandingkan proyeksi tahun ini yang berada di angka 643.000 ton. Peningkatan ini tak lepas dari dorongan transisi global menuju energi bersih serta komitmen banyak negara dalam menurunkan emisi karbon.
CEO Eramet Indonesia, Jerome Baudelet, menjelaskan saat ini porsi konsumsi nikel untuk baterai mencapai sekitar 18% dari total konsumsi nikel global. Angka tersebut diperkirakan akan naik menjadi 30% pada 2035, seiring dengan meningkatnya adopsi kendaraan listrik di seluruh dunia. Nikel berperan penting dalam baterai lithium-ion yang memiliki kepadatan energi tinggi, sehingga memungkinkan kendaraan listrik menempuh jarak lebih jauh dalam sekali pengisian daya.
Lonjakan permintaan nikel dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kebijakan pemerintah yang mendorong penggunaan EV, kemajuan teknologi dalam produksi baterai, hingga meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Selain itu, target ambisius banyak negara untuk mencapai net zero emission semakin mempercepat peralihan menuju kendaraan ramah lingkungan.
Di balik peluang besar tersebut, industri nikel menghadapi tantangan dalam menjaga pasokan yang berkelanjutan. Negara produsen utama, termasuk Indonesia, berupaya meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan global. Namun, aspek lingkungan dan sosial dalam aktivitas pertambangan harus tetap menjadi perhatian agar pertumbuhan industri ini tidak merusak ekosistem.
Kenaikan konsumsi nikel memberikan dampak ganda. Dari sisi ekonomi, meningkatnya produksi berpotensi membuka lapangan kerja dan mendongkrak pendapatan negara. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, aktivitas penambangan bisa menimbulkan kerusakan lingkungan dan mengancam keberlanjutan ekosistem. Oleh karena itu, praktik penambangan yang bertanggung jawab perlu diterapkan.
Dengan proyeksi lonjakan konsumsi nikel yang signifikan hingga 2035, masa depan kendaraan listrik dipandang semakin menjanjikan. Namun, keberhasilan transisi ini sangat bergantung pada upaya industri dan pemerintah dalam mengelola pasokan nikel secara berkelanjutan, sekaligus menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan.