Upaya mendorong kemandirian energi desa di Bali kembali menunjukkan hasil positif. Institute for Essential Services Reform (IESR) bersama Pemerintah Provinsi Bali meresmikan empat instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan total kapasitas 15,37 kWp di tiga desa.
Instalasi PLTS pertama berada di Kantor Perbekel Desa Banjarasem, Kabupaten Buleleng, dengan kapasitas 3,48 kWp dan baterai 4,8 kWh. Selanjutnya, di Desa Baturinggit, Karangasem, PLTS berkapasitas 3,48 kWp dengan baterai 4,8 kWh digunakan untuk mendukung operasional pompa air. Sementara itu, di Desa Batununggul, Nusa Penida, Klungkung, terdapat dua instalasi, yaitu PLTS berkapasitas 5,95 kWp dengan baterai 4,8 kWh yang dipasang di Kantor Camat Nusa Penida, serta PLTS berkapasitas 2,46 kWp dengan baterai 5,12 kWh yang dipasang di SD Negeri 1 Batununggul.
Keberadaan PLTS ini membawa dampak nyata bagi masyarakat desa. Tagihan listrik dapat ditekan hingga 60 persen, sehingga mengurangi beban biaya operasional fasilitas publik. Selain itu, penggunaan energi surya juga mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil dan membantu menekan emisi karbon. Penghematan tersebut memungkinkan dana desa dialokasikan untuk kebutuhan lain yang lebih mendesak, sekaligus memberikan kontribusi pada kelestarian lingkungan.
Masyarakat di tiga desa tersebut menyambut baik kehadiran PLTS karena langsung merasakan manfaat dari listrik yang lebih murah dan berkelanjutan. Pemerintah daerah juga memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif ini dan berencana memperluas program serupa ke desa-desa lain di Bali. Langkah ini sekaligus mempertegas komitmen Bali untuk menjadi pelopor energi terbarukan di Indonesia.
Keberhasilan implementasi PLTS di Banjarasem, Baturinggit, dan Batununggul menjadi bukti bahwa energi terbarukan dapat menjadi solusi efektif dalam menyediakan akses listrik yang bersih, murah, dan berkelanjutan.