Dari balik jeruji Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan, secercah harapan baru mulai tumbuh. Melalui Program Nusakambangan Berdaya, warga binaan kini dibekali keterampilan untuk mengolah limbah pembakaran batu bara atau fly ash bottom ash (FABA) dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Adipala. Limbah yang sebelumnya dipandang tidak bernilai kini disulap menjadi produk bermanfaat dan bernilai ekonomi.
FABA yang dihasilkan dari proses pembakaran batu bara kerap dianggap sebagai permasalahan lingkungan. Namun, melalui program ini, limbah tersebut berhasil diubah menjadi bahan baku utama untuk berbagai produk konstruksi. Dari tangan-tangan warga binaan, lahir batako, paving block, roaster, hingga buis beton yang dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan pembangunan.
Program Nusakambangan Berdaya tidak hanya menjadi solusi pengelolaan limbah, tetapi juga sarana pemberdayaan warga binaan. Mereka yang sebelumnya tidak memiliki keterampilan kini mampu menghasilkan produk yang bernilai jual. Melalui pelatihan dan pendampingan, warga binaan mendapatkan keahlian baru sekaligus kesempatan untuk memperoleh penghasilan, yang pada akhirnya membuka jalan menuju kemandirian ekonomi pasca-masa tahanan.
Inisiatif ini membawa dampak ganda, mengurangi potensi pencemaran lingkungan akibat limbah pembakaran batu bara serta menciptakan peluang ekonomi baru. Program ini juga membuktikan bahwa upaya rehabilitasi warga binaan dapat berjalan beriringan dengan inovasi ramah lingkungan, memberikan manfaat nyata baik bagi masyarakat maupun ekosistem.
Program Nusakambangan Berdaya menunjukkan bahwa dari limbah bisa lahir harapan. Dengan keterampilan baru dalam mengolah FABA, warga binaan tidak hanya berkontribusi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga memperoleh bekal penting untuk membangun masa depan yang lebih baik. Inisiatif ini menjadi bukti bahwa rehabilitasi sosial dan keberlanjutan lingkungan dapat saling menguatkan.
