Harga kobalt di Tiongkok melemah setelah Republik Demokratik Kongo, produsen kobalt terbesar dunia, mengumumkan rencana untuk mengakhiri larangan ekspor yang telah berlaku selama berbulan-bulan. Pengumuman ini memicu penurunan harga sekitar 2% di Wuxi Stainless Steel Exchange.
Keputusan Kongo untuk mengganti larangan dengan skema kuota ini akan berlaku efektif mulai 15 Oktober. Sesuai kebijakan baru, penambang di Kongo hanya akan diizinkan mengekspor lebih dari 18.000 ton hingga akhir tahun ini. Untuk tahun 2026 dan 2027, kuota ekspor ditetapkan maksimal 96.600 ton.
Larangan ekspor, yang pertama kali diumumkan pada Februari 2025, sempat memicu kenaikan signifikan pada harga kobalt global. Selama periode larangan, harga kobalt berhasil rebound lebih dari 60%, dan harga kobalt hidroksida, produk ekspor utama Kongo, melonjak hingga lebih dari dua setengah kali lipat.
Langkah ini diambil oleh Kongo setelah harga kobalt anjlok sebelumnya akibat peningkatan produksi dari perusahaan asal Tiongkok, CMOC Group Ltd. Akibatnya, harga acuan sempat jatuh ke level terendah dalam 21 tahun.
Penurunan impor kobalt ke Tiongkok sangat terasa selama larangan, dengan impor produk setengah jadi kobalt anjlok lebih dari 90% pada Agustus dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
