Tiongkok mencatatkan lonjakan impor minyak mentah dari Indonesia dalam dua bulan terakhir, sebuah fenomena yang tidak biasa mengingat Indonesia adalah negara pengimpor minyak bersih. Data bea cukai Tiongkok menunjukkan impor dari Indonesia melonjak menjadi 2,7 juta ton pada Agustus, setara dengan sekitar 630.000 barel per hari (bph), jauh melampaui produksi domestik Indonesia.
Fenomena ini menguatkan dugaan bahwa Tiongkok menggunakan Indonesia sebagai rute baru untuk mengimpor minyak dari Iran. Dugaan ini muncul setelah Tiongkok juga terdeteksi melakukan hal serupa dengan Malaysia—mengimpor lebih banyak minyak dari negara tersebut dibandingkan produksi Malaysia.
Modus Operandi dan Indikasi
Modus yang diduga terjadi adalah transfer kapal (ship-to-ship transfer) di perairan lepas pantai Indonesia, khususnya di dekat Pulau Batam. Menurut data pelacakan kapal, beberapa kapal tanker, seperti Aquaris, Yuhan, Pola, dan Pix, terdeteksi singgah di Pelabuhan Kabil, Batam, sebelum berlayar ke Tiongkok. Kabil adalah pelabuhan yang tidak terhubung dengan fasilitas ekspor minyak mentah, yang semakin menguatkan dugaan ini.
Para ahli berpendapat bahwa ini adalah evolusi dari taktik yang digunakan oleh para operator untuk menghindari sanksi AS. Charlie Brown dari United Against Nuclear Iran mengatakan bahwa pola dasarnya tetap sama, yaitu menyembunyikan asal muatan. Hal ini sejalan dengan data bea cukai Tiongkok yang tidak mencatat impor minyak Iran sejak pertengahan 2022, meskipun mereka tetap menjadi pembeli terbesar.
Laporan ini menyoroti bagaimana Iran dan Tiongkok berupaya mencari solusi baru untuk menjaga perdagangan minyak mereka di tengah tekanan sanksi internasional, dan bagaimana Indonesia diduga menjadi bagian dari rantai pasok ‘bayangan’ ini. Hingga kini, pihak berwenang di Indonesia, termasuk Kementerian ESDM dan Pertamina, belum memberikan tanggapan.
