Ekspor minyak dari wilayah Kurdistan Irak akan dibuka kembali pekan ini setelah terhenti selama dua tahun. Hal ini dimungkinkan berkat kesepakatan antara pemerintah Irak, otoritas Kurdistan, dan produsen minyak.
Menteri Luar Negeri Irak, Fuad Hussein, menyatakan bahwa aliran minyak melalui pipa Ceyhan menuju Turki akan kembali normal dalam beberapa hari ke depan. Pihaknya juga sedang bernegosiasi dengan Turki untuk perjanjian pipa baru, karena kontrak saat ini akan berakhir pada 2026.
Pembukaan kembali jalur pipa ini menjadi kabar baik bagi Irak yang telah kehilangan pendapatan miliaran dolar. Awalnya, sekitar 230.000 barel minyak per hari akan diekspor, dan angka ini bisa meningkat hingga 500.000 barel per hari jika ada investasi tambahan. Meskipun demikian, pasokan yang kembali ini bisa menambah kelebihan suplai di pasar minyak global.
Beberapa perusahaan minyak di Kurdistan telah mencapai kesepakatan pembayaran, dan pemerintah Kurdistan telah menandatanganinya. Pengecualiannya adalah DNO ASA, produsen terbesar di wilayah tersebut, yang masih dalam tahap negosiasi.
Irak diperkirakan telah mengalami kerugian pendapatan hingga $25 miliar akibat penghentian ekspor yang dimulai pada Maret 2023. Penyebabnya adalah putusan pengadilan arbitrase yang membuat Turki menutup pipa. Pembukaan kembali ini diharapkan mengakhiri masalah hukum dan keuangan yang menghambat ekspor selama ini.
