Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa sektor pertambangan mengalami koreksi signifikan pada kuartal III-2025 secara tahunan (year-on-year/yoy). Meskipun demikian, seluruh lapangan usaha lainnya menunjukkan pertumbuhan positif, terutama dari sektor jasa pendidikan, jasa perusahaan, dan jasa lainnya. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud, menyatakan bahwa sektor-sektor utama yang memberikan kontribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB) meliputi industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan.
Menurut data BPS, sektor pertambangan mengalami penurunan sebesar 1,98% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan kontribusi 8,51% terhadap PDB. Di sisi lain, sektor industri pengolahan, pertanian, perdagangan, dan konstruksi mencatat pertumbuhan positif masing-masing sebesar 5,54%, 4,93%, 5,49%, dan 4,21%.
Meskipun sektor pertambangan mengalami penurunan, BPS mengungkapkan bahwa industri logam dasar dalam sektor pengolahan tumbuh signifikan secara tahunan. Pertumbuhan ini mencapai 18,62%, didorong oleh peningkatan permintaan luar negeri untuk produk logam dasar, khususnya besi dan baja. “Sejalan dengan peningkatan permintaan luar negeri untuk produk logam dasar, khususnya besi dan baja,” kata Edy.
BPS melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2025 mencapai 5,04% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini mendekati ekspektasi pasar yang diperkirakan oleh Bloomberg sebesar 5% yoy. Namun, pertumbuhan ini sedikit melambat dibandingkan kuartal sebelumnya, di mana PDB Indonesia tumbuh 5,12% yoy, tertinggi dalam dua tahun terakhir. Secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), ekonomi Indonesia tumbuh 1,43%.
Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,2%, dengan pertumbuhan ekonomi negara berkembang diperkirakan mencapai 4,2%. “Pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan Singapura pada kuartal III-2025 tumbuh melambat. Korea Selatan dan Vietnam diperkirakan tumbuh lebih kuat. Ekonomi beberapa mitra dagang Indonesia tetap tumbuh,” jelas Edy.
Harga komoditas andalan ekspor Indonesia bervariasi. CPO dan bijih besi mengalami kenaikan, sementara batu bara dan minyak mentah naik secara kuartalan tetapi turun secara tahunan. Harga gas alam turun secara kuartalan namun naik secara tahunan, sedangkan nikel mencatat penurunan. Sepanjang kuartal III-2025, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan dengan ekspor mencapai US$ 74,39 miliar atau tumbuh 8,96% yoy, dan impor sebesar US$ 60,39 miliar atau turun 2,09% yoy.
Kinerja perekonomian pada kuartal III-2025 didukung oleh konsumsi yang terjaga. Konsumsi per kapita untuk jasa makanan-minuman-akomodasi serta barang dan jasa lainnya tumbuh masing-masing sebesar 5,76% yoy dan 7,49% yoy. Realisasi investasi dalam negeri dan asing juga meningkat sebesar 13,89% yoy, seiring dengan peningkatan mobilitas masyarakat.
Kebijakan ekonomi yang diterapkan, seperti pengendalian inflasi, penetapan BI Rate, serta kebijakan fiskal, turut menopang efektivitas belanja dan pertumbuhan ekonomi. Namun, tantangan ke depan masih ada, terutama dalam memaksimalkan potensi sektor pertambangan dan mengatasi perlambatan pertumbuhan ekonomi. Dukungan dari berbagai pihak dan kebijakan yang tepat akan sangat menentukan keberhasilan Indonesia dalam menghadapi tantangan dan peluang ini.
