Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) bersama Kementerian Koperasi (Kemenkop) tengah merancang proyek percontohan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di tingkat desa. Proyek ini diharapkan menjadi model pengembangan energi bersih yang dapat mendorong ekonomi masyarakat desa secara mandiri. Pertanyaan yang muncul adalah, apakah hasil dari proyek percontohan ini akan dikelola oleh Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes/KDKMP)?
CEO Pertamina NRE, John Anis, menyatakan bahwa proyek ini merupakan bagian dari program pemerintah untuk mengembangkan panel surya berkapasitas 100 gigawatt yang tersebar di 80 desa. Pertamina NRE akan bekerja sama dengan Kemenkop untuk menguji penerapan PLTS, dimulai dengan satu proyek percontohan yang saat ini sedang difinalisasi.
“Kita akan membantu program 100 gigawatt pemerintah. Harapannya di 80 desa dengan Koperasi Desa Merah Putih itu sejalan. Hampir mirip seperti ini, tapi mungkin lebih besar,” ujar John saat peresmian Desa Energi Berdikari (DEB) di Karawang, Jawa Barat, Selasa (4/11/2025).
Konsep proyek ini berbeda dari program tanggung jawab sosial (CSR) biasa. Pertamina NRE tidak hanya memberikan fasilitas listrik gratis kepada masyarakat, tetapi juga menguji sejauh mana sistem energi bersih dapat berjalan berkelanjutan secara ekonomi. Dalam tahap uji coba, masyarakat tetap membayar listrik yang mereka gunakan, namun hasil pembayarannya tidak untuk keuntungan perusahaan. Dana tersebut akan dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk pengembangan fasilitas produktif, seperti penambahan cold storage atau sarana pendukung usaha lainnya.
John menjelaskan bahwa pendekatan ini bertujuan menghindari risiko proyek mangkrak, yang sering terjadi ketika fasilitas dibangun tanpa pendampingan atau tanpa kemampuan masyarakat untuk merawatnya. Oleh karena itu, Pertamina NRE akan terus mendampingi masyarakat selama dua hingga lima tahun setelah instalasi PLTS dilakukan. Dalam masa pendampingan ini, masyarakat akan dilatih untuk mengelola, merawat, dan memanfaatkan energi secara mandiri hingga akhirnya bisa berdikari tanpa bergantung pada bantuan pihak luar.
“Di situ akan kita tes, di mana pada saat peningkatan ekonomi terjadi, masyarakat bisa membayar listriknya. Jadi listriknya dibayar. Tapi itu hanya untuk ngetes aja. Nanti uangnya, begitu kita dapat, kita balikin lagi ke mereka untuk beli, misalkan, cold storage lebih banyak dibalikin lagi,” jelas John.
Keberhasilan proyek ini tidak hanya diukur dari sisi penyediaan energi, tetapi juga kemampuan masyarakat dalam mengelola, merawat, dan memanfaatkan fasilitas tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan. John menekankan bahwa proyek ini bertujuan untuk menciptakan siklus ekonomi yang sehat, di mana masyarakat dapat merasakan manfaat langsung dari hasil usahanya.
Dengan adanya proyek percontohan PLTS ini, diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mendorong kemandirian energi di desa-desa di Indonesia. Melalui kolaborasi dan pendampingan yang berkelanjutan, Pertamina NRE dan Kemenkop berkomitmen untuk mewujudkan desa yang mandiri secara energi dan ekonomi.
