Pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), harga minyak mentah dunia mengalami penguatan yang signifikan. Harapan bahwa Hongaria dapat menggunakan minyak mentah Rusia menjadi salah satu pendorong utama, terutama setelah pertemuan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orban, di Gedung Putih. Mengutip laporan dari CNBC pada Sabtu (8/11/2025), harga minyak mentah berjangka Brent naik sebesar 0,39 persen atau 25 sen AS, mencapai level 63,63 dollar AS per barrel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga mengalami kenaikan sebesar 0,54 persen atau 32 sen AS, mencapai level 59,75 dollar AS per barrel.
Kedua acuan harga minyak tersebut berhasil pulih setelah mengalami penurunan pada hari-hari sebelumnya. Meskipun demikian, keduanya diperkirakan akan mencatat penurunan mingguan sekitar 2 persen, seiring dengan peningkatan produksi oleh produsen minyak global utama. John Kilduff, mitra di Again Capital, menyatakan bahwa pertemuan antara Trump dan Orban menjadi perhatian utama untuk melihat kemungkinan adanya kesepakatan yang dapat meringankan sanksi terhadap perusahaan minyak besar seperti Lukoil dan Rosneft.
Hongaria telah lama bergantung pada energi Rusia, terutama sejak dimulainya konflik di Ukraina pada tahun 2022. Ketergantungan ini telah memicu kritik dari beberapa sekutu Uni Eropa dan NATO. Sebelumnya, harga minyak Brent sempat mengalami penurunan akibat pemangkasan jadwal penerbangan di AS. Hal ini disebabkan oleh kekurangan pengawas lalu lintas udara yang tidak menerima gaji selama penutupan pemerintahan (government shutdown).
Phil Flynn, Analis Senior di Price Futures Group, menjelaskan bahwa penghentian banyak penerbangan telah mengurangi permintaan bahan bakar diesel secara signifikan. Badan Penerbangan Federal AS (FAA) bahkan memerintahkan maskapai untuk membatalkan ribuan penerbangan akibat kekurangan pengontrol lalu lintas udara. Menurut Analis SEB, Ole Hvalbye, penurunan permintaan bahan bakar pesawat ini telah menambah tekanan pada pasar minyak yang sudah menghadapi kelebihan pasokan.
Kekhawatiran akan kelebihan pasokan semakin meningkat setelah laporan menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS naik sebesar 5,2 juta barel pekan ini. Kenaikan ini lebih tinggi dari perkiraan, akibat meningkatnya impor dan berkurangnya aktivitas penyulingan, menurut Badan Informasi Energi AS (EIA). Sementara itu, laporan sektor tenaga kerja AS tidak dirilis karena penutupan pemerintahan, meskipun sejumlah laporan swasta menunjukkan adanya pelemahan pasar tenaga kerja.
Di sisi lain, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) memutuskan pada Minggu lalu untuk sedikit menaikkan produksi pada Desember 2025. Namun, kelompok ini menunda peningkatan lebih lanjut untuk kuartal pertama tahun depan, karena khawatir akan kelebihan pasokan. Pasar yang terpasok dengan baik mendorong Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia, untuk mengumumkan penurunan tajam harga minyak mentahnya untuk pembeli Asia pada bulan Desember. Sebagai respons terhadap kondisi pasar yang melimpah, Arab Saudi menurunkan harga jual resmi minyaknya untuk pembeli di Asia pada bulan Desember.
Penguatan harga minyak mentah dunia pada akhir pekan ini mencerminkan dinamika kompleks di pasar energi global. Pertemuan antara Trump dan Orban memberikan harapan baru bagi penggunaan minyak mentah Rusia oleh Hongaria, meskipun tantangan seperti sanksi internasional dan kelebihan pasokan tetap menjadi perhatian utama. Keputusan OPEC+ dan respons dari Arab Saudi akan terus mempengaruhi pergerakan harga minyak di masa mendatang.
