Pemerintah Indonesia saat ini tengah menyusun regulasi baru yang memungkinkan PT Pertamina (Persero) untuk mengimpor minyak dan gas (migas) dari Amerika Serikat (AS) tanpa melalui proses lelang atau bidding. Langkah ini merupakan bagian dari kesepakatan tarif dagang antara Indonesia dan AS, yang akan memfasilitasi transaksi langsung antara Pertamina dan perusahaan-perusahaan AS.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa skema impor tanpa lelang ini merupakan bagian dari tarif resiprokal yang sedang dalam tahap negosiasi. “Kita masih dalam negosiasi apabila itu sampai kepada kesepakatan untuk ditindaklanjuti ada turunan-turunan PP maupun Perpres,” ujar Airlangga kepada media di Jakarta, Senin (17/11/2025).
Airlangga menambahkan bahwa pemerintah akan memberikan penugasan kepada Pertamina untuk membeli komoditas migas dari AS. Sebelumnya, Pertamina telah menandatangani tiga nota kesepahaman business to business (B2B) di bidang pengadaan feedstock minyak dan kilang melalui anak usahanya, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dengan ExxonMobil Corp., KDT Global Resource LLC., dan Chevron Corp.
Selain Pertamina, Airlangga juga menyebutkan bahwa perusahaan swasta akan turut serta dalam impor migas dari AS untuk mengimbangi surplus neraca dagang saat ini. PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) direncanakan akan membeli gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG) dari AS. Dengan demikian, nilai kesepakatan impor dari AS, termasuk migas, diperkirakan mencapai sekitar US$15 miliar.
Sebagai catatan, Indonesia berhasil mendapatkan tarif impor sebesar 19%, lebih rendah dibandingkan tarif sebelumnya yang mencapai 32% sebelum adanya perundingan dengan AS. Salah satu kesepakatan yang diteken antara RI dan AS adalah kebijakan impor gas minyak cair atau LPG, serta bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin dengan nilai total US$15 miliar.
Meskipun hingga saat ini belum ada kontrak jual-beli migas yang diteken antara Indonesia dan AS, Airlangga menargetkan realisasi pembelian sejumlah komoditas migas tersebut dapat dilakukan pada sisa tahun ini. “Nanti kita akan bahas sesudah perjanjian itu ditandatangani. Ditargetkan seperti itu [realisasi tahun ini],” kata Airlangga kepada media di acara CEO Insight 2025, Selasa (4/11/2025).
Dengan regulasi baru ini, diharapkan impor migas dari AS dapat berjalan lebih efisien dan mendukung stabilitas ekonomi Indonesia di tengah tantangan global. Pemerintah dan Pertamina terus berupaya untuk memastikan pasokan energi yang stabil dan terjangkau bagi masyarakat.
