Blok Natuna D-Alpha, terletak di Pulau Natuna, Kepulauan Riau, dikenal sebagai salah satu wilayah kerja (WK) dengan potensi gas terbesar di dunia. Dengan kandungan gas mencapai 222 triliun kaki kubik (TCF), blok ini menjadi perhatian utama dalam industri migas global. Namun, tingginya kandungan karbondioksida (CO2) dalam gas tersebut membatasi eksploitasi hanya sekitar 46 TCF. Selain gas, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat potensi minyak di blok ini mencapai 2.865 juta barel (MMBO).
Sejak ditemukan pada tahun 1973, Blok Natuna D-Alpha belum dieksploitasi secara optimal. ExxonMobil, raksasa migas asal Amerika Serikat, memperoleh hak partisipasi pada tahun 1980 melalui anak usahanya, Esso Natuna, dengan 50% participating interest (PI), sementara sisanya dipegang oleh PT Pertamina (Persero). Pada tahun 1996, ExxonMobil meningkatkan kepemilikannya menjadi 76% setelah mengalihkan 26% PI ke Mobil Natuna.
Namun, meskipun ada kesepakatan antara Pertamina dan Esso Natuna pada tahun 1995 untuk mengembangkan struktur hingga 2005, ExxonMobil gagal menyertakan studi kelayakan yang diperlukan. Akibatnya, pemerintah mencabut hak ExxonMobil pada tahun 2007 dan menyerahkan pengelolaan kepada Pertamina pada tahun 2008.
Pertamina kemudian membentuk konsorsium dengan ExxonMobil, Total E&P, Petronas, dan PTT EP Thailand. Namun, konsorsium ini bubar pada tahun 2017 karena pertimbangan kelayakan bisnis. Blok ini juga terletak di Laut China Selatan, yang menjadi sumber ketegangan antara China dan Amerika Serikat beserta sekutunya, menambah tantangan geopolitik dalam pengelolaannya.
Blok East Natuna, yang mencakup D-Alpha, dibagi menjadi tiga wilayah kerja: Arwana-Barakuda, Paus, dan D-Alpha. Pada tahun 2022, Blue Sky Paus Ltd. memenangkan lelang WK Paus dengan komitmen investasi sebesar US$14,66 juta. Sementara itu, Pertamina Hulu Energi (PHE) mengembalikan Blok Natuna D-Alpha kepada pemerintah dan fokus pada pengembangan lapangan Arwana dan Barakuda.
Kuwait Foreign Petroleum Exploration Company (Kufpec) berencana mendorong monetisasi awal cadangan minyak di Blok Natuna D-Alpha. Kufpec juga dikabarkan mengajak Shell Plc. untuk mengembangkan struktur gas di blok ini setelah melakukan joint study pada tahun 2024. Diskusi mengenai kemungkinan kerja sama ini masih berlangsung, dengan Kufpec mengundang kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) potensial untuk bergabung dalam megaproyek tersebut.
Meskipun potensi besar yang dimiliki Blok Natuna D-Alpha, tantangan teknis dan geopolitik tetap menjadi hambatan utama. Kementerian ESDM telah memasukkan area ini dalam daftar lelang wilayah kerja migas tahun depan, namun kepastian lelang masih menunggu kejelasan konsorsium yang akan dibentuk Kufpec. Dengan potensi gas dan minyak yang signifikan, Blok Natuna D-Alpha tetap menjadi fokus utama dalam upaya pengembangan energi Indonesia di masa depan.
