
Para pelaku industri pertambangan batu bara kini tengah menghadapi tekanan ganda akibat kebijakan harga domestik (Domestic Market Obligation/DMO) yang tidak berubah di tengah pemangkasan volume dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan penambang mengenai keberlanjutan arus kas dan margin keuntungan mereka. Dengan harga jual untuk kebutuhan dalam negeri yang dipatok tetap sementara izin kuota produksi dikurangi, para pengusaha mulai menyuarakan perlunya skema kompensasi dari pemerintah guna menjaga stabilitas bisnis sektor energi ini.
Keresahan para penambang didasari oleh perhitungan biaya operasional yang terus meningkat, sementara ruang untuk mencari keuntungan dari pasar ekspor menjadi terbatas akibat pemotongan target produksi di RKAB. Kebijakan DMO yang mewajibkan perusahaan memasok kebutuhan domestik dengan harga khusus memang bertujuan menjaga ketahanan energi nasional, namun jika dikombinasikan dengan pengurangan volume produksi, dampaknya dirasa sangat memberatkan bagi perusahaan skala menengah dan kecil. Mereka berharap ada kebijakan penyeimbang, baik dalam bentuk insentif fiskal maupun penyesuaian aturan, agar operasional tetap berjalan sehat.
Di sisi lain, pemerintah menegaskan bahwa pemangkasan RKAB dilakukan sebagai langkah kontrol terhadap eksploitasi sumber daya alam dan upaya menjaga keseimbangan pasar. Meski demikian, tuntutan akan adanya “jalan tengah” atau bentuk kompensasi terus menguat sebagai antisipasi agar iklim investasi di sektor batu bara tidak lesu. Para pelaku usaha menekankan bahwa kepastian regulasi yang mendukung sisi ekonomi sangat diperlukan agar mereka tetap mampu memenuhi kewajiban pasokan dalam negeri tanpa harus mengorbankan kelangsungan perusahaan.
Dinamika ini menunjukkan adanya tantangan besar dalam menyelaraskan kepentingan ketahanan energi domestik dengan kelayakan bisnis bagi produsen. Dialog antara regulator dan asosiasi pertambangan diharapkan segera menghasilkan solusi konkret, mengingat peran batu bara yang masih sangat vital bagi pasokan listrik nasional dan penerimaan negara.
