
Para pelaku pasar dan trader minyak internasional memberikan sorotan tajam terhadap kebijakan sanksi yang dijatuhkan negara-negara Barat kepada Rusia dan Iran. Mereka menilai bahwa pembatasan perdagangan serta tekanan diplomatik terhadap kedua negara produsen minyak besar tersebut menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak mentah di pasar global. Sanksi ini dinilai telah mengganggu alur distribusi normal dan menciptakan ketidakpastian pasokan yang membuat harga tetap berada di level yang tinggi.
Kondisi ini memaksa banyak negara pembeli untuk mencari sumber energi alternatif, yang pada akhirnya memicu persaingan ketat dalam memperebutkan stok minyak yang tersedia. Para trader menjelaskan bahwa ketika pasokan dari Rusia dan Iran terhambat atau dialihkan melalui jalur-jalur non-konvensional, biaya logistik dan risiko pengiriman otomatis meningkat. Beban biaya tambahan inilah yang kemudian dibebankan kepada harga jual di pasar, sehingga konsumen akhir di berbagai belahan dunia merasakan dampaknya melalui kenaikan harga BBM.
Selain masalah distribusi, sanksi tersebut juga membuat pasar kehilangan fleksibilitas dalam menyeimbangkan permintaan dan penawaran. Meskipun ada upaya dari negara produsen lain untuk menambah produksi, kapasitas mereka dianggap belum cukup untuk sepenuhnya menutupi kekosongan yang ditinggalkan oleh minyak Rusia dan Iran dalam waktu singkat. Situasi ini diperkirakan akan terus membuat volatilitas harga minyak tetap tinggi selama ketegangan geopolitik dan kebijakan sanksi tersebut belum melonggar.
Pandangan dari para praktisi pasar ini menunjukkan bahwa kebijakan politik internasional memiliki pengaruh yang sangat langsung dan signifikan terhadap sektor energi. Bagi para investor dan pelaku industri, memantau perkembangan sanksi Barat menjadi sangat krusial karena setiap perubahan kebijakan dapat secara instan mengubah arah pergerakan harga minyak dunia.
