
Harga tembaga dan sejumlah logam industri lainnya mengalami penurunan pada perdagangan pasar global hari ini. Melemahnya harga komoditas ini disebabkan oleh minimnya aktivitas perdagangan di kawasan Asia, menyusul penutupan pasar di beberapa pusat komoditas utama seperti China karena libur Hari Raya Imlek. Kondisi pasar yang sepi tanpa kehadiran para trader dari Asia Tenggara dan Asia Timur mengakibatkan volume perdagangan menurun drastis dan menekan pergerakan harga ke zona merah.
Penurunan harga ini juga dipengaruhi oleh sikap pelaku pasar global yang cenderung menahan diri atau wait and see di tengah absennya data ekonomi terbaru dari China. Sebagai konsumen logam terbesar di dunia, aktivitas industri dan permintaan dari China menjadi indikator utama dalam menentukan arah harga tembaga dunia. Selama masa libur panjang ini, likuiditas pasar menjadi terbatas, sehingga fluktuasi harga sangat bergantung pada dinamika ekonomi di wilayah Barat yang saat ini belum mampu memberikan sentimen positif yang cukup kuat.
Selain faktor musiman libur Imlek, pergerakan nilai tukar mata uang dolar Amerika Serikat yang fluktuatif turut membayangi harga logam dasar. Penguatan dolar seringkali membuat komoditas yang dipatok dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga menekan permintaan. Namun, fokus utama pasar saat ini tetap tertuju pada kapan aktivitas ekonomi di Asia akan kembali normal untuk memberikan kepastian terhadap proyeksi permintaan fisik logam industri di kuartal pertama tahun ini.
Penurunan harga tembaga dan logam dasar lainnya akibat libur Imlek menunjukkan besarnya pengaruh pasar Asia terhadap stabilitas komoditas global, di mana jeda perdagangan di wilayah tersebut secara langsung melemahkan momentum pertumbuhan harga di pasar internasional.
