
Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan signifikan sebagai respons langsung terhadap langkah Iran yang menggelar latihan militer besar-besaran di wilayah perairan strategis. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Angkatan Laut Iran mengumumkan aktivitas militer di sekitar Selat Hormuz, yang merupakan jalur distribusi energi paling vital di dunia. Para pelaku pasar mengkhawatirkan adanya potensi gangguan pasokan minyak mentah global jika eskalasi di wilayah tersebut terus berlanjut.
Lonjakan harga ini mencerminkan tingginya sensitivitas pasar terhadap isu keamanan di jalur pelayaran migas utama. Selat Hormuz merupakan titik tumpu bagi pengiriman jutaan barel minyak setiap harinya, sehingga aktivitas militer apa pun di kawasan tersebut memicu kekhawatiran akan terjadinya hambatan logistik atau penutupan jalur. Kondisi ini membuat para investor melakukan aksi beli sebagai langkah antisipasi terhadap risiko berkurangnya suplai di pasar internasional.
Selain faktor ketegangan di Timur Tengah, pergerakan harga minyak juga dipengaruhi oleh proyeksi keseimbangan antara pasokan dan permintaan global. Namun, faktor geopolitik saat ini menjadi penggerak utama yang mendominasi sentimen pasar. Para analis memprediksi bahwa harga minyak akan tetap berada dalam tren penguatan selama ketidakpastian keamanan di wilayah teluk belum mereda dan diplomasi antarnegara belum menunjukkan hasil yang mendinginkan suasana.
Latihan Angkatan Laut Iran telah menciptakan premi risiko baru pada perdagangan minyak mentah dunia, mempertegas betapa rapuhnya stabilitas harga energi global terhadap dinamika keamanan di wilayah Timur Tengah yang dapat berdampak luas pada ekonomi internasional.
