
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan fakta bahwa terdapat sekitar 22.000 sumur minyak di Indonesia yang saat ini dalam kondisi tidak beroperasi atau menganggur (idle). Fenomena ini menjadi perhatian serius pemerintah karena ribuan sumur tersebut sebenarnya masih memiliki potensi cadangan yang dapat dioptimalkan untuk meningkatkan produksi minyak nasional. Upaya reaktivasi sumur-sumur ini dinilai sebagai langkah strategis yang lebih cepat dibandingkan dengan melakukan pengeboran eksplorasi baru yang memakan waktu dan biaya besar.
Sebagai langkah nyata, pemerintah tengah menyiapkan skema intervensi khusus untuk mendorong para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) agar segera mengelola kembali aset-aset tersebut. Salah satu kebijakan yang dipertimbangkan adalah memberikan kemudahan regulasi serta insentif bagi perusahaan yang mampu menghidupkan kembali sumur-sumur tua atau yang sudah lama ditinggalkan. Jika kontraktor eksisting tetap tidak melakukan optimalisasi, pemerintah membuka peluang untuk menawarkan pengelolaan sumur-sumur idle tersebut kepada pihak lain yang lebih kompeten dan berkomitmen.
Langkah intervensi ini bertujuan untuk mengejar target produksi minyak nasional dan menekan laju penurunan produksi alamiah (natural decline) yang terjadi di banyak lapangan migas Indonesia. Dengan mengaktifkan kembali puluhan ribu sumur tersebut, diharapkan ketergantungan terhadap impor minyak mentah dapat dikurangi secara bertahap. Selain itu, optimalisasi sumur idle juga diproyeksikan akan memberikan dampak ekonomi positif bagi daerah-daerah penghasil migas melalui peningkatan aktivitas lapangan dan penyerapan tenaga kerja lokal.
Pengaktifan kembali 22.000 sumur minyak melalui intervensi kebijakan pemerintah menjadi solusi kunci dalam memperkuat kedaulatan energi nasional serta memastikan aset-aset sumber daya alam negara tidak terbengkalai dan dapat memberikan manfaat maksimal bagi perekonomian.
