Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) tengah bersiap untuk mengekspor konsentrat tembaganya ke sejumlah negara di Asia setelah mendapatkan relaksasi ekspor. Negara-negara yang menjadi target ekspor antara lain Korea Selatan, Jepang, China, dan Filipina. Meskipun belum ada rincian mengenai volume ekspor ke masing-masing negara, AMNT berharap Kementerian Perdagangan (Kemendag) segera mengeluarkan izin ekspor setelah mendapatkan rekomendasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Presiden Direktur AMNT, Rachmat Makkasau, menyatakan bahwa saat ini izin yang diberikan mencakup ekspor ke Korea, Jepang, China, dan Filipina. “Saya lupa pastinya,” ujarnya dalam CEO Forum 2025, Rabu (5/11/2025). Rachmat juga mengungkapkan bahwa beberapa perusahaan di berbagai negara telah menghubungi AMNT untuk membeli konsentrat tembaga tersebut. Ia berharap izin ekspor dari Kemendag dapat terbit dalam beberapa hari ke depan agar ekspor dapat segera dilakukan.
Sebelumnya, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) telah mendapatkan rekomendasi izin persetujuan ekspor (PE) konsentrat tembaga dari Kementerian ESDM. Rekomendasi ini mencakup ekspor sebesar 480.000 metrik ton kering atau dry metric ton (dmt) konsentrat yang berlaku selama enam bulan, mulai 31 Oktober 2025 hingga April 2026, melalui anak usahanya, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT).
Rachmat Makkasau menyampaikan apresiasi atas dukungan dari berbagai instansi, terutama Kementerian ESDM, yang telah berkoordinasi untuk memahami kendala teknis di fasilitas smelter Amman. Kerusakan yang terjadi di fasilitas tersebut, menurut Rachmat, murni di luar kesengajaan dan tidak dapat dihindarkan. Kerusakan ini memaksa penghentian sementara operasional untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dan risiko keselamatan kerja.
Perbaikan fasilitas smelter harus dilakukan secara menyeluruh mengingat skala kerumitan pekerjaan, yang diperkirakan selesai hingga paruh pertama 2026. Selama proses perbaikan, AMNT tetap melakukan operasi secara parsial dengan peningkatan produksi yang dilakukan secara hati-hati tanpa mengabaikan aspek keselamatan. Dengan adanya rekomendasi izin ekspor, perusahaan memastikan bahwa gudang penyimpanan konsentrat tidak melebihi kapasitas, sehingga operasional tambang dapat berlanjut sesuai rencana.
Sebelumnya, AMNT telah memperoleh izin ekspor konsentrat tembaga sebesar 587.330 wet metric ton (wmt) atau setara 534.000 dmt yang berlaku hingga 31 Desember 2024. Berdasarkan catatan Bloomberg Technoz, smelter AMNT baru beroperasi sekitar 48% pada tahap komisioning akhir Februari 2025. Smelter yang berlokasi di Kabupaten Sumbawa Barat, NTB ini memiliki kapasitas pengolahan 900.000 ton konsentrat tembaga per tahun, dengan target produksi 220.000 ton katoda tembaga.
Rencana ekspor konsentrat tembaga AMNT ke Asia menunggu izin dari Kemendag setelah mendapatkan rekomendasi dari ESDM. Meskipun menghadapi tantangan teknis di fasilitas smelter, AMNT tetap optimis untuk melanjutkan operasional tambang dan memenuhi target ekspor. Dukungan dari berbagai instansi diharapkan dapat mempercepat proses perizinan dan memastikan kelancaran ekspor ke negara-negara tujuan di Asia.
