Rabu, 11 Mar 2026
  • Analisa & Opini
  • Infografis & Data
  • Kebijakan & Regulasi
Subscribe
Info Energi - Sumber Informasi Energi dan Mineral Indonesia
  • Home
  • Migas
  • Minerba
  • Kelistrikan
  • Energi Terbarukan
  • CSR
  • Analisa & Opini
Search Here
Font ResizerAa
Info Energi - Sumber Informasi Energi dan Mineral IndonesiaInfo Energi - Sumber Informasi Energi dan Mineral Indonesia
  • Home
  • Migas
  • Minerba
  • Energi Terbarukan
  • Kelistrikan
  • CSR
Search
  • Migas
  • Minerba
  • Kelistrikan
  • Energi Terbarukan
  • CSR
  • Analisa & Opini
  • Infografis & Data
  • Kebijakan & Regulasi
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Info Energi - Sumber Informasi Energi dan Mineral Indonesia > Blog > Energi Terbarukan > Sanksi Terhadap Pelabuhan dan Kilang China: Dampak pada Aliran Minyak Rusia dan Iran
Energi Terbarukan

Sanksi Terhadap Pelabuhan dan Kilang China: Dampak pada Aliran Minyak Rusia dan Iran

Redaksi InfoEnergi
Last updated: 19 November 2025 6:44 pm
Redaksi InfoEnergi
Share
SHARE

Perluasan sanksi terhadap pelabuhan dan kilang di China kini menghambat aliran minyak dari Rusia dan Iran ke negara importir minyak terbesar tersebut. Meskipun demikian, celah baru dalam impor mulai muncul, menunjukkan bahwa perlambatan ini mungkin hanya bersifat sementara. Para pengolah minyak milik negara di China menghentikan pembelian ESPO, jenis minyak yang menjadi porsi terbesar impor dari Rusia, setelah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap produsen Rosneft PJSC dan Lukoil PJSC.

Sanksi Washington terhadap terminal minyak Rizhao, yang menangani sekitar sepersepuluh impor minyak mentah China, juga menekan arus minyak dari Iran. Sejumlah kilang swasta, yang biasanya lebih berani mengambil risiko ketika membeli minyak sensitif, ikut menghindari minyak dari wilayah Timur Jauh Rusia. Sikap hati-hati ini muncul setelah Uni Eropa dan Inggris memasukkan Shandong Yulong Petrochemical Co., kilang “teapot” yang menjadi pembeli utama minyak Rusia, ke dalam daftar hitam.

Rangkaian kejadian ini menciptakan tingkat kekhawatiran yang tidak biasa di pasar. Peningkatan rasa takut ini menjadi pembeda terbesar antara langkah terbaru AS dan berbagai pembatasan Barat sebelumnya, menurut Vandana Hari, pendiri firma analisis Vanda Insights yang berbasis di Singapura. “Sanksi AS terhadap Rosneft dan Lukoil bisa menjadi titik balik,” ujarnya.

Kecemasan para pembeli China terjadi saat kilang-kilang India juga mengurangi pembelian minyak Rusia, menunjukkan bahwa upaya Barat untuk mengurangi pendanaan Kremlin bagi perang di Ukraina mulai menunjukkan dampaknya. Namun, ketahanan pelabuhan-pelabuhan yang sudah masuk daftar hitam seperti Dongjiakou di provinsi Shandong menunjukkan bahwa arus kembali bisa meningkat jika tidak ada pengawasan dan penegakan yang ketat.

Menurut perkiraan Rystad Energy AS, impor minyak mentah Rusia via laut oleh China dapat turun 500.000 hingga 800.000 barel per hari bulan ini, atau hingga dua pertiga dari level normal. Sementara itu, pasokan dari Iran bisa turun 200.000 hingga 400.000 barel per hari, atau hingga 30%. Saat ini terdapat kelebihan pasokan minyak sensitif yang kesulitan menemukan pembeli, kata Emma Li, analis pasar China di Vortexa Ltd., firma pelacakan kapal dan intelijen energi.

Impor minyak Iran oleh China yang biasanya masuk melalui pelabuhan Rizhao tetap rendah setelah pelabuhan tersebut dikenai sanksi pada Oktober karena hubungannya dengan produsen dari Teluk Persia. Stok yang sudah tinggi di Shandong serta kekurangan kuota impor di kalangan kilang swasta juga menekan permintaan, menurut Vortexa. Akibatnya, volume minyak Iran yang disimpan di laut meningkat menjadi hampir 48 juta barel pada akhir pekan lalu, tertinggi dalam lebih dari dua tahun, menurut Kpler.

Kini terdapat kelebihan pasokan ESPO, yang ditawarkan dengan diskon US$4 per barel dari harga acuan untuk penjualan ke China, menurut para pedagang. Diskon ini jauh lebih besar dibandingkan selisih 50 sen pada akhir Oktober. Harga semacam itu bisa terlalu menggoda bagi sejumlah kilang China, yang mungkin kembali menggunakan cara lama: mematikan transponder dan melakukan transfer antarkapal untuk menyembunyikan asal minyak yang mereka beli.

Pelabuhan Dongjiakou juga kembali muncul sebagai jalur untuk minyak sensitif. Pelabuhan itu dikenai sanksi AS pada Agustus, meningkatkan risiko bagi pedagang, pemilik kapal, dan lembaga keuangan yang terlibat. Namun setelah sempat terjadi penurunan arus, pelabuhan itu kini kembali menangani volume besar minyak Iran, menunjukkan bahwa bagi sebagian pembeli, peluang tetap dianggap lebih besar daripada risikonya.

Perlambatan pembelian minyak Rusia dan Iran saat ini juga mungkin disebabkan oleh hampir habisnya kuota impor bagi kilang swasta menjelang akhir tahun. Kondisi ini mendorong mereka untuk meminta tambahan kuota kepada pemerintah. Namun sekalipun kuota tambahan disetujui, beberapa kilang China kemungkinan tetap memilih pendekatan “wait and see” terhadap pembelian minyak Rusia untuk melihat seberapa ketat sanksi akan ditegakkan, kata Jianan Sun, analis di Energy Aspects Ltd. “Akan dibutuhkan waktu untuk memperkuat saluran pembelian dan rantai pasok yang baru.”

TAGGED:China
Share This Article
Twitter Email Copy Link Print
Previous Article Rio Tinto Pangkas Produksi Alumina di Yarwun: Tantangan Kapasitas Limbah
Next Article Pertamina Patra Niaga dan BP-AKR: Tantangan Pengadaan Base Fuel
Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Your Trusted Source for Accurate and Timely Updates!

Our commitment to accuracy, impartiality, and delivering breaking news as it happens has earned us the trust of a vast audience. Stay ahead with real-time updates on the latest events, trends.
FacebookLike
TwitterFollow
InstagramFollow
TiktokFollow
LinkedInFollow
MediumFollow
QuoraFollow
- Advertisement -
Ad image

Popular Posts

Chandra Asri Raih Pembiayaan 750 Juta Dollar AS dari KKR Capital Markets

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) baru saja mendapatkan fasilitas pembiayaan sebesar 750 juta dollar…

By Redaksi InfoEnergi

Pemerintah Ancam Cabut Izin Inpex di Blok Masela Jika Tak Segera Produksi

Pemerintah Beri Ultimatum kepada Inpex Pemerintah Indonesia mengeluarkan ultimatum keras kepada perusahaan energi asal Jepang,…

By Redaksi InfoEnergi

PGN Menyongsong Energi Masa Depan untuk Generasi Muda

Perusahaan Gas Negara (PGN) tidak sekadar dikenal sebagai penyedia gas alam, tetapi juga berkomitmen untuk…

By Redaksi InfoEnergi

You Might Also Like

Energi TerbarukanKelistrikan

Luncurkan Tefa Auto Hub Polije Genjot Otomotif Berbasis Energi Terbaru

By Redaksi InfoEnergi
Energi Terbarukan

Ramalan Harga Batu Bara: Dampak Pengurangan Produksi dan Ekspor Indonesia

By Redaksi InfoEnergi
Transformasi Energi

RSUP Hasan Sadikin Bandung Terapkan Energi Gas dari Pertamina untuk Dukung Transisi Energi Bersih

By Redaksi InfoEnergi
Migas

India Diproyeksi Geser China dalam Pertumbuhan Permintaan Minyak 2025

By Redaksi InfoEnergi
Info Energi - Sumber Informasi Energi dan Mineral Indonesia
Facebook Twitter Youtube Rss Medium

Mengenai Kami


InfoEnergi.id adalah platform media terpercaya yang menyajikan informasi terkini seputar sektor energi di Indonesia. Dengan tujuan memberikan wawasan yang akurat dan terverifikasi, situs ini menghadirkan berbagai berita, analisis, dan update terkait perkembangan energi, baik yang bersumber dari fosil, terbarukan, maupun kebijakan energi nasional. Infoenergi.id mengedepankan kualitas informasi yang selalu diperbarui sesuai dengan dinamika industri energi global dan lokal.

Kategori
  • Home
  • Migas
  • Minerba
  • Kelistrikan
  • Energi Terbarukan
  • CSR
  • Analisa & Opini
Link Lainnya
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Syarat dan Ketentuan Berlaku
  • Iklan
  • Pedoman Siber

Copyright @ InfoEnergi.id – Pusat Informasi Mengenai Energi Indonesia

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?