Upaya pemulihan listrik di wilayah Aceh yang terdampak bencana longsor dan banjir terus dipercepat. Bencana ini telah menyebabkan gangguan serius pada infrastruktur transmisi, dengan PLN melaporkan bahwa 12 tower Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) roboh dalam 24 jam terakhir. Akibatnya, suplai daya ke sejumlah kecamatan di utara Pulau Sumatra, terutama di provinsi Aceh, terputus. Situasi ini menambah daftar krisis teknis yang harus dihadapi bersamaan dengan operasi tanggap darurat di lapangan.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menjelaskan bahwa kerusakan tower menjadi pemicu utama kelumpuhan suplai listrik. Namun, respons mitigasi telah dilakukan sejak hari pertama bencana. “Sejak hari pertama bencana, PLN sudah menetapkan status siaga penuh. Petugas kami bergerak cepat bersama tim gabungannya untuk memulihkan akses dasar masyarakat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (30/11).
PLN langsung melakukan mobilisasi logistik dan personel tanpa henti. Menurut Darmawan, tantangan terbesar yang dihadapi adalah akses medan dan waktu pengerjaan. “Mobilisasi material kami lakukan nonstop. Ini operasi kemanusiaan, sehingga semua lini turun seketika tanpa jeda,” tegasnya.
Saat ini, sebanyak 500 petugas gabungan dari unit-unit PLN se-Indonesia telah diterjunkan ke Aceh untuk mempercepat pembangunan tower transmisi darurat. Koordinasi juga melibatkan pemerintah daerah dan unsur pertahanan keamanan untuk memastikan pengiriman material, bantuan, hingga infrastruktur cadangan mencapai daerah-daerah terisolir.
PLN menegaskan bahwa mobilisasi dilakukan lewat dua jalur sekaligus, baik darat maupun udara, terutama ke wilayah yang akses jalannya masih terputus akibat longsor. Material set tower diangkut langsung dari pesawat Hercules, dengan dukungan dari TNI, serta pengamanan rute bersama Polri dan BNPB daerah. Selain tower, PLN juga mengirim genset cadangan, paket logistik, dan lampu darurat untuk menjaga layanan vital masyarakat selama pemulihan berjalan.
Untuk fasilitas pelayanan publik, PLN menyiagakan puluhan genset di rumah sakit, puskesmas, bandara, dan kantor pemerintahan. “Obyek vital tidak boleh padam. Ini jadi prioritas kami agar pelayanan dasar tetap hidup meski jaringan backbone sedang kami bangun ulang,” ujar Darmawan.
Strategi teknis island operation juga dioptimalkan di Aceh, terutama di kawasan beban besar. PLN mengaktifkan Island Operation di Nagan Raya dengan beban 100 MW dan Arun dengan 16 MW, agar sebagian fasilitas publik tetap mendapat suplai daya. “Dengan island operation, kami pastikan layanan publik masih bisa mendapat pasokan listrik di tengah proses pemulihan besar ini,” jelasnya.
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, menyampaikan bahwa kerusakan yang terjadi sangat berat dan memengaruhi 18 dari 23 kabupaten/kota. “Belum tahu status sejumlah kampung bagaimana, ada yang hilang. Tapi insyaallah, dengan bantuan PLN Aceh dan pusat, mudah-mudahan dalam waktu dekat ini listrik yang terputus dapat segera tersalur kembali,” katanya.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan, diharapkan pemulihan listrik di Aceh dapat berjalan dengan cepat dan efektif, sehingga masyarakat dapat kembali menikmati layanan listrik yang stabil dan aman. Koordinasi yang baik antara berbagai pihak menjadi kunci dalam menghadapi tantangan besar ini.
