Kuwait Foreign Petroleum Exploration Company (Kufpec) dikabarkan tengah mengajak Shell Plc. untuk bekerja sama dalam mengembangkan struktur gas Natuna D-Alpha di Laut Natuna Utara. Kedua perusahaan migas besar ini masih dalam tahap diskusi mengenai kemungkinan kolaborasi untuk menggarap salah satu ladang gas terbesar di dunia tersebut. Proyek ini, yang bersinggungan langsung dengan Laut China Selatan, telah mangkrak lebih dari setengah abad sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1973.
Menurut sumber dari Bloomberg Technoz, Kufpec telah memulai joint study di prospek Natuna D-Alpha pada tahun 2024, setelah PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mengembalikan blok tersebut kepada pemerintah dua tahun sebelumnya. Setelah menyelesaikan joint study, Kufpec mengundang sejumlah kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) potensial untuk bergabung dalam megaproyek ini. Beberapa KKKS yang didekati memiliki portofolio di lepas pantai Kepulauan Natuna, termasuk PHE dan PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC).
Namun, CEO MEDC Hilmi Panigoro sebelumnya menegaskan bahwa grupnya tidak terlibat dalam megaproyek tersebut. Sementara itu, PHE juga menarik diri dari tawaran Kufpec, memilih untuk fokus pada pengembangan Blok East Natuna yang bersebelahan dengan struktur gas Natuna D-Alpha.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memasukkan area Natuna D-Alpha ke dalam daftar putaran lelang wilayah kerja (WK) migas tahun depan. Namun, kepastian lelang masih menunggu kejelasan konsorsium yang akan dibentuk Kufpec. Menurut sumber, Kufpec berencana untuk memonetisasi awal lapisan minyak di Blok Natuna D-Alpha sebelum mengembangkan cadangan gas yang melimpah di kawasan tersebut. Rencana ini bertujuan untuk menjaga arus kas konsorsium di tengah risiko monetisasi kandungan gas dengan tingkat karbondioksida (CO2) tinggi.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, Blok Natuna D-Alpha memiliki potensi kandungan gas mencapai 222 triliun kaki kubik (TCF), namun dengan kandungan karbondioksida mencapai 71%, gas yang bisa dieksploitasi hanya sekitar 46 TCF. Selain itu, potensi kandungan minyak dari Natuna D-Alpha diperkirakan sekitar 2.865 juta barel (MMBO).
Pri Agung Rakhmanto, pendiri sekaligus penasihat ReforMiner Institute, menilai positif penjajakan kerja sama antara Kufpec dan Shell. Menurutnya, Shell memiliki teknologi dan kemampuan mutakhir untuk mengembangkan aset laut dalam, serta pemurnian gas dari karbondioksida yang sejalan dengan fokus pengembangan migas dunia saat ini.
Guru Besar Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB, Tutuka Ariadji, menekankan pentingnya mencari formula pengembangan paling efisien untuk Natuna D-Alpha. Konsorsium harus menentukan pemanfaatan gas CO2 yang relatif besar dari lapangan tersebut, misalnya untuk bahan baku industri atau enhanced oil recovery (EOR). Tutuka juga menyoroti pentingnya strategi biaya termurah agar proyek bisa berjalan ekonomis, termasuk pemanfaatan temperatur laut untuk pemisahan CO2.
Struktur gas Natuna D-Alpha pertama kali ditemukan oleh Azienda Generale Italiana Petroli (Agip) pada tahun 1973. Temuan ini kemudian dikelola oleh konsorsium Pertamina dan Esso Natuna Ltd. Namun, setelah beberapa perubahan kepemilikan dan kegagalan memenuhi syarat pengembangan, hak partisipasi ExxonMobil dicabut dan pengelolaan dialihkan ke Pertamina pada tahun 2008. Konsorsium yang melibatkan ExxonMobil, Total E&P, dan Petronas akhirnya bubar, dengan ExxonMobil dan PTT EP mundur dari proyek tersebut.
Dengan berbagai tantangan dan peluang yang ada, kerja sama antara Kufpec dan Shell diharapkan dapat memberikan solusi bagi pengembangan Natuna D-Alpha, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam industri migas global.
