Harga batu bara menutup perdagangan bulan November dengan catatan positif. Sepanjang bulan lalu, harga komoditas ini menunjukkan tren kenaikan yang signifikan. Pada Jumat (28/11/2025), harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan mendatang ditutup pada level US$ 110,4 per ton, mengalami kenaikan sebesar 0,68% dibandingkan hari sebelumnya. Selama bulan November, harga batu bara mencatat kenaikan sebesar 6,26% secara point-to-point.
Memasuki musim dingin, negara-negara di belahan bumi utara bersiap menghadapi peningkatan kebutuhan energi. Musim ini biasanya mendorong peningkatan penggunaan listrik, terutama untuk penghangat ruangan. Di Eropa, meskipun ada upaya untuk mengandalkan energi baru-terbarukan, permintaan listrik yang meningkat selama musim dingin sering kali tidak dapat dipenuhi sepenuhnya oleh pembangkit energi terbarukan. Pasokan sinar matahari dan angin yang berkurang selama musim dingin menyebabkan peningkatan penggunaan energi fosil, termasuk batu bara.
Di Jerman, misalnya, batu bara tetap menjadi pilihan ketika pembangkit listrik energi terbarukan mengalami penurunan kinerja. Hal ini semakin relevan setelah Jerman menutup pembangkit listrik tenaga nuklir pada tahun 2023. Dengan demikian, batu bara mengambil peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi selama musim dingin.
Bagaimana proyeksi harga batu bara untuk bulan Desember? Apakah tren kenaikan akan berlanjut? Secara teknikal, dengan menggunakan perspektif bulanan, batu bara saat ini berada di zona bearish. Hal ini tercermin dari Relative Strength Index (RSI) yang berada di angka 42, menunjukkan bahwa aset ini sedang dalam posisi bearish. Namun, indikator Stochastic RSI berada di angka 71, menunjukkan area beli yang sangat kuat.
Untuk perdagangan bulan Desember, harga batu bara diperkirakan dapat mengalami penurunan. Namun, koreksi harga ini kemungkinan belum akan membawa harga di bawah US$ 100 per ton. Target support terdekat berada di rentang US$ 109-106 per ton. Jika pivot point di US$ 105 per ton tertembus, maka harga berpotensi terkoreksi lebih lanjut ke kisaran US$ 103-101 per ton.
Sebaliknya, jika harga tetap kuat dan menanjak, batu bara berpotensi menguji resisten di level US$ 113 per ton. Penembusan di titik ini dapat mengangkat harga ke level yang lebih tinggi, yaitu antara US$ 122-142 per ton.
Dengan berbagai faktor yang mempengaruhi, termasuk kondisi cuaca dan kebijakan energi di Eropa, harga batu bara diperkirakan akan tetap fluktuatif. Para pelaku pasar diharapkan terus memantau perkembangan ini untuk mengambil keputusan yang tepat dalam perdagangan batu bara. Meskipun ada potensi penurunan, peluang kenaikan harga tetap ada jika permintaan energi fosil meningkat selama musim dingin.
