PT Agincourt Resources (PTAR) menegaskan bahwa aktivitas tambang mereka tidak memperburuk bencana banjir di Sumatra Utara. Perusahaan ini menekankan bahwa operasi tambang dilakukan dengan meminimalkan dampak lingkungan dan mematuhi peraturan yang berlaku. Katarina Siburian Hardono, Senior Manager Corporate Communications PTAR, menjelaskan bahwa operasional tambang sudah mencakup upaya mitigasi banjir serta memastikan konservasi hutan dan keanekaragaman hayati di area tambang dan sekitarnya.
Katarina mengklaim bahwa lokasi banjir bandang di Desa Garoga berada di daerah aliran sungai (DAS) Garoga yang berbeda dan tidak terhubung dengan lokasi PTAR yang beroperasi di DAS Aek Pahu. “Pemantauan kami juga tidak menemukan material kayu di DAS Aek Pahu yang dapat dikaitkan dengan temuan di wilayah banjir,” ujar Katarina saat dikonfirmasi oleh Bloomberg Technoz pada Senin (1/12/2025).
Menurut Katarina, banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi merupakan dampak dari cuaca ekstrem yang dipicu oleh siklon tropis Senyar yang melanda wilayah Sumatra Utara. PTAR menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam melakukan kajian komprehensif guna menggali faktor penyebab bencana banjir bandang dan longsor di kawasan tersebut. “Fokus kami saat ini adalah membantu masyarakat yang terdampak musibah dengan menyediakan tempat tinggal, makanan, dan bantuan medis di lokasi yang membutuhkan, serta memastikan keselamatan dan kesejahteraan 3.500 karyawan kami,” tambah Katarina.
Tambang emas Martabe milik PTAR di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, dituding memperparah banjir di provinsi tersebut karena diduga berdiri di ekosistem Batang Toru, salah satu bentang hutan tropis esensial terakhir di wilayah itu. Wahana Lingkungan Indonesia (Walhi) Sumut mencatat bahwa terdapat 8 kabupaten/kota di Sumut yang terdampak banjir bandang dan longsor, dengan banjir terparah terjadi di Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah.
Walhi menyatakan bahwa bencana tersebut paling parah melanda wilayah yang berada di ekosistem Harangan Tapanuli atau Ekosistem Batang Toru. Berdasarkan data citra satelit pada 2025, Walhi mencatat pembukaan hutan di areal Harangan Tapanuli, yakni di Batang Toru, Tapanuli Selatan, sangat masif terjadi. Lokasi tersebut memiliki nilai konservasi tinggi dan menjadi benteng alam jika hujan terjadi. “Tak jauh dari lokasi penambangan emas, muncul pada 2025 lahan gundul yang luas di daerah Tapanuli Tengah,” tulis Walhi Sumut dalam akun Instagram resminya.
Dalam situs resminya, 95% saham PTAR tercatat dimiliki oleh PT Danusa Tambang Nusantara, anak perusahaan PT Pamapersada Nusantara (Pama) dan PT United Tractors Tbk. (UNTR). Konstruksi tambang dimulai sejak 2008 dan produksi dimulai pada 2012. Total area konsesi yang mencakup tambang emas Martabe tercantum dalam kontrak karya 30 tahun generasi keenam antara PTAR dan pemerintah. Luas awal yang ditetapkan pada 1997 tercatat selebar 6.560 km persegi, tetapi dengan beberapa pelepasan kini menjadi 130.252 hektare yang berlokasi di Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Mandailing Natal.
Area operasional tambang emas Martabe dalam konsesi tersebut terletak di Kabupaten Tapanuli Selatan dengan luas area 509 ha per Januari 2022. PTAR mengoperasikan tiga pit terbuka: Pit Rambing Joring yang dibuka pada 2017, Pit Barani dibuka pada 2016, dan Pit Purnama yang dibuka pada 2011. Perusahaan juga mengoperasikan pabrik pengolahan bijih emas dengan teknologi carbon-in-leach (CIL) dan fasilitas prasarana dukungan lainnya.
Sepanjang 2024, PTAR mencatatkan penambangan bijih sebesar 6,9 juta ton, naik 21% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebanyak 5,7 juta ton. Penggilingan bijih tercatat sebesar 6,7 juta ton, naik 1,5% dibandingkan dengan 2023. Di sisi lain, perusahaan juga melakukan eksplorasi di area Martabe dan regional. Sepanjang 2024, perusahaan melakukan pengeboran 37.200 meter. Dengan aktivitas tersebut, sumber daya bijih perusahaan per 30 Juni 2024 sebesar 6,1 juta ons emas dan 59 juta ons perak. Sementara itu, cadangan yang dimiliki tercatat sebesar 3,5 juta ons emas dan 32 juta ons perak.
PT Agincourt Resources menegaskan komitmennya untuk meminimalkan dampak lingkungan dari aktivitas tambang dan siap bekerja sama dengan pihak terkait untuk mengatasi bencana banjir di Sumatra Utara. Meskipun ada tuduhan yang mengaitkan aktivitas tambang dengan bencana tersebut, PTAR berupaya untuk memberikan klarifikasi dan bantuan kepada masyarakat yang terdampak.
