Selat Hormuz, yang membentang di antara Teluk Persia dan Teluk Oman, adalah salah satu jalur pelayaran paling krusial di planet ini. Setiap harinya, sekitar seperlima dari total produksi minyak dunia melintasi selat ini. Penutupan jalur ini dapat menimbulkan dampak besar terhadap pasokan minyak global, termasuk bagi Indonesia.
Sebagai negara dengan konsumsi energi yang terus meningkat, Indonesia sangat bergantung pada impor minyak untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Saat ini, Indonesia mengimpor sekitar satu juta barel minyak setiap hari. Penutupan Selat Hormuz dapat mengganggu pasokan ini, mengingat sebagian besar impor minyak Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah.
Penutupan Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak global, yang pada akhirnya akan mempengaruhi harga bahan bakar di Indonesia. Kenaikan harga ini dapat berdampak pada inflasi dan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi. Selain itu, gangguan pasokan minyak dapat mempengaruhi sektor energi dan industri yang bergantung pada bahan bakar fosil.
Pemerintah Indonesia perlu menyiapkan strategi untuk menghadapi potensi krisis energi akibat penutupan Selat Hormuz. Diversifikasi sumber impor minyak dan peningkatan cadangan energi nasional menjadi langkah penting yang harus diambil. Selain itu, pengembangan energi terbarukan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak.
Penutupan Selat Hormuz menyoroti pentingnya kesiapan dan diversifikasi sumber energi bagi Indonesia. Dengan mengurangi ketergantungan pada impor minyak dan meningkatkan penggunaan energi terbarukan, Indonesia dapat lebih tangguh menghadapi tantangan energi di masa depan.
