Efisiensi dan keandalan listrik nasional dinilai bisa terancam apabila Indonesia tidak mengandalkan Industrial Control System (ICS) dan Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA). Kedua sistem ini berfungsi menjaga kestabilan operasional pembangkit listrik sekaligus menekan risiko pemadaman massal. Direktur PT Spentera, Royke Tobing, menegaskan bahwa ICS dan SCADA bukan sekadar perangkat teknis, melainkan sistem pengendali penting yang memastikan pasokan listrik tetap stabil, efisien, dan aman.
Tanpa adanya dukungan ICS dan SCADA, pengawasan terhadap jaringan listrik akan jauh dari optimal. Hal ini dapat memicu gangguan distribusi, meningkatkan risiko pemadaman luas, serta membuat konsumsi energi menjadi tidak efisien. Akibatnya, biaya operasional meningkat dan pemborosan energi tidak terhindarkan.
ICS dan SCADA memungkinkan pemantauan serta pengendalian infrastruktur kelistrikan secara real-time. Dengan teknologi ini, operator dapat mendeteksi dan menangani masalah dengan cepat, mengoptimalkan penggunaan energi, sekaligus mendukung integrasi dengan sumber energi terbarukan. Kehadiran kedua sistem ini diyakini mampu menciptakan ekosistem kelistrikan yang lebih efisien, andal, dan berkelanjutan.
Meski manfaatnya besar, penerapan ICS dan SCADA di Indonesia menghadapi sejumlah tantangan. Investasi awal yang tinggi serta kebutuhan tenaga ahli terampil untuk pengoperasian dan pemeliharaan masih menjadi kendala. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah dan pihak swasta untuk memastikan implementasi berjalan maksimal.
Adopsi ICS dan SCADA menjadi langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, dan keandalan listrik nasional. Dengan mengatasi hambatan yang ada, Indonesia berpeluang mewujudkan sistem kelistrikan yang stabil, hemat energi, dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.