Eropa tengah menghadapi tantangan besar untuk mewujudkan ambisi energi bersih. Uni Eropa menargetkan bahwa pada tahun 2050, sekitar 80 persen kebutuhan listrik akan dipenuhi dari sumber energi terbarukan. Untuk mencapainya, para peneliti dan insinyur kini mulai melirik teknologi yang lebih futuristik: panel surya antariksa.
Sebuah studi terbaru menemukan bahwa panel surya yang ditempatkan di orbit bumi dapat memangkas kebutuhan pembangunan energi terbarukan di daratan Eropa hingga 80 persen pada tahun 2050. Dengan menggunakan model komputer terperinci tentang jaringan listrik masa depan benua tersebut, para peneliti mendapati bahwa sistem panel berbasis luar angkasa rancangan NASA berpotensi mengurangi biaya listrik Eropa hingga 15 persen sekaligus menurunkan kebutuhan baterai lebih dari dua pertiga.
Panel surya antariksa berfungsi dengan menangkap sinar matahari di luar atmosfer, di mana radiasi lebih stabil tanpa terhalang cuaca maupun rotasi bumi. Energi yang terkumpul kemudian ditransmisikan ke bumi menggunakan gelombang mikro atau sinar laser. Berbeda dengan panel surya di permukaan bumi yang bergantung pada siang dan malam, panel antariksa dapat menghasilkan listrik 24 jam sehari, menjadikannya sumber daya yang lebih stabil.
Keuntungan utama dari teknologi ini adalah pasokan listrik yang terus-menerus. Namun, pengembangannya masih dihadapkan pada biaya peluncuran yang sangat besar serta tantangan keamanan dalam proses transmisi energi dari orbit ke daratan. Meski demikian, potensi penghematan biaya sistem listrik secara keseluruhan menjadikan panel surya antariksa semakin menarik untuk dikembangkan.
Menyadari potensi tersebut, negara-negara Eropa kini mulai membangun aliansi dengan organisasi internasional dan sektor swasta. Kerja sama lintas negara menjadi kunci dalam riset, pendanaan, dan pengembangan teknologi ini. Dukungan perusahaan energi hingga lembaga antariksa diperlukan agar proyek ini bisa masuk ke tahap implementasi nyata.
Jika berhasil, panel surya antariksa bukan hanya akan membantu Eropa mencapai target energi hijau 2050, tetapi juga menjadi model global dalam menghadapi krisis iklim. Inovasi ini berpotensi mengubah cara dunia menghasilkan dan mendistribusikan energi, sekaligus memperkuat peran Eropa di garis depan revolusi energi bersih.