Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) berencana menawarkan skema perdagangan karbon internasional dalam ajang Conference of the Parties (COP) 30 yang akan digelar di Belem, Brasil, pada November 2025 mendatang. Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, mengungkapkan langkah ini akan disampaikan dalam sesi pertemuan antara penjual dan pembeli di paviliun Indonesia. Ia menambahkan, hingga saat ini Norwegia telah menyatakan minat untuk membeli 12 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e) dari Indonesia.
Perdagangan karbon merupakan instrumen global yang memungkinkan negara menjual atau membeli hak emisi karbon. Negara yang berhasil menekan emisi lebih rendah dari target yang ditetapkan dapat menjual kelebihan tersebut kepada pihak lain yang kesulitan mencapai komitmennya. Dengan potensi besar yang dimiliki dari hutan tropis dan lahan gambut, Indonesia menilai perdagangan karbon dapat menjadi peluang besar dalam menarik investasi sekaligus mempercepat agenda penurunan emisi.
Indonesia telah menegaskan komitmennya untuk memangkas emisi gas rumah kaca sebesar 29% dengan upaya sendiri dan hingga 41% dengan dukungan internasional pada 2030. Kehadiran perdagangan karbon diyakini mampu memperkuat pendanaan konservasi hutan, restorasi ekosistem, serta mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan.
COP30 di Brasil dipandang sebagai momentum penting bagi Indonesia untuk memperluas jejaring internasional dalam pasar karbon. Forum ini akan mempertemukan para pemimpin dunia guna mencari terobosan kebijakan iklim, di mana Indonesia ingin tampil sebagai salah satu penggerak utama kerja sama global dalam penurunan emisi.
Meski menjanjikan, skema ini masih menghadapi tantangan. Aspek transparansi, akuntabilitas, serta distribusi manfaat yang adil antara negara maju dan berkembang menjadi faktor penting agar perdagangan karbon benar-benar berdampak. Indonesia berharap keterlibatannya tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi strategis negara dalam percaturan iklim global.
Dengan potensi sumber daya alam yang besar, Indonesia berada di jalur untuk menjadi pemain kunci dalam perdagangan karbon dunia. Partisipasi aktif pada COP30 akan menjadi pijakan penting menuju peran yang lebih besar dalam upaya global menghadapi perubahan iklim.