Seiring dengan makin seringnya kejadian cuaca ekstrem dan menguatnya dampak perubahan iklim, negara-negara di seluruh dunia semakin gencar mendorong dekarbonisasi. Upaya ini sejalan dengan komitmen global melalui Perjanjian Paris 2016, yang menargetkan pembatasan kenaikan suhu rata-rata global agar tetap jauh di bawah 2 derajat Celsius. Namun, di balik langkah penting ini, muncul kekhawatiran mengenai biaya ekonomi dari transisi menuju energi bersih. Penelitian menunjukkan bahwa upaya mitigasi emisi gas rumah kaca yang terlalu ketat berpotensi memicu kenaikan harga makanan dan energi, yang pada akhirnya dapat memperburuk tingkat kemiskinan dan ketidaksetaraan.
Meskipun krusial bagi keberlanjutan lingkungan, dekarbonisasi dapat membawa konsekuensi ekonomi yang tidak ringan. Sektor-sektor berbasis bahan bakar fosil, seperti pertambangan dan energi, kemungkinan besar akan mengalami penurunan permintaan. Hal ini dapat berujung pada berkurangnya lapangan kerja dan penurunan pendapatan bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor tersebut. Jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang inklusif, kelompok rentan bisa semakin terdorong ke dalam jurang kemiskinan.
Studi dari sejumlah lembaga riset menegaskan bahwa transisi energi yang tidak terencana dengan matang berisiko memperlebar kesenjangan ekonomi. Selain ancaman pengangguran, lonjakan biaya hidup akibat naiknya harga energi dan pangan juga dikhawatirkan akan menekan daya beli masyarakat. Para peneliti menekankan bahwa dekarbonisasi tidak boleh hanya dipandang dari sisi lingkungan, tetapi juga harus mempertimbangkan stabilitas sosial dan ekonomi.
Untuk menghadapi tantangan ini, peneliti mendorong pemerintah agar mengadopsi kebijakan mitigasi yang berpihak pada masyarakat. Beberapa rekomendasi mencakup pelatihan ulang tenaga kerja yang terdampak, perluasan investasi pada energi terbarukan yang mampu membuka lapangan kerja baru, serta penguatan program perlindungan sosial bagi kelompok rentan. Dengan pendekatan tersebut, transisi menuju ekonomi rendah karbon dapat berjalan lebih adil dan berkelanjutan.
Dekarbonisasi adalah langkah vital dalam menghadapi perubahan iklim, tetapi prosesnya harus dirancang dengan hati-hati agar tidak menimbulkan beban sosial baru. Kolaborasi antara pemerintah, peneliti, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk merumuskan strategi transisi yang inklusif. Dengan kebijakan yang tepat, dekarbonisasi dapat menjadi peluang untuk membangun ekonomi hijau yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga adil bagi seluruh lapisan masyarakat.
