PT Timah (TINS) menargetkan produksi bijih timah melonjak menjadi 30.000 ton pada tahun 2026, naik hampir 40% dari target tahun ini sebesar 21.500 ton.
Direktur Utama TINS, Restu Widiyantoro, menyatakan keyakinannya bahwa target ini dapat tercapai berkat perbaikan operasional di area penambangan. Salah satu faktor pendukung utama adalah bantuan dari satuan tugas yang dibentuk oleh TNI, yang diharapkan dapat menstabilkan produksi bulanan TINS di level 6.500 ton.
Selain itu, TINS juga akan meningkatkan kerja sama dengan koperasi pertambangan legal yang dibentuk oleh masyarakat. Saat ini, TINS telah bekerja sama dengan 30 koperasi, dan perusahaan berharap jumlah ini bisa terus bertambah untuk meningkatkan volume produksi yang tercatat.
Kinerja Semester I-2025 sebagai Latar Belakang
Target ambisius ini datang setelah TINS mencatat penurunan kinerja pada semester I-2025. Produksi bijih timah anjlok 32%, dan produksi logam timah turun 29%, terutama akibat cuaca, kondisi cadangan, dan penambangan ilegal.
- Produksi Bijih Timah: Turun 32% menjadi 6.997 ton.
- Produksi Logam Timah: Turun 29% menjadi 6.870 metrik ton.
- Penjualan Logam Timah: Turun 28% menjadi 5.983 ton.
Meski demikian, TINS berhasil mencatat kenaikan harga jual rata-rata logam timah sebesar 8%, menjadi US$32.816 per ton.
Dari sisi keuangan, perusahaan membukukan penurunan laba sebesar 31% menjadi Rp300 miliar, dengan pendapatan yang juga turun 19% menjadi Rp4,22 triliun. Penurunan ini salah satunya disebabkan oleh pembagian dividen tahun buku 2024.
