International Day for the Conservation of the Mangrove Ecosystem atau Hari Mangrove Sedunia diperingati setiap tanggal 26 Juli. Peringatan ini ditetapkan oleh UNESCO pada Konferensi Umum tahun 2015 sebagai bentuk pengakuan global terhadap pentingnya ekosistem mangrove bagi kehidupan manusia dan lingkungan. Tahun 2025, UNESCO menetapkan tema “Melindungi Lahan Basah untuk Masa Depan Kita” yang menyoroti pentingnya perlindungan dan pemulihan ekosistem mangrove dan lahan basah secara berkelanjutan.
Berbagai pihak, baik pemerintah maupun organisasi lingkungan, menetapkan target ambisius untuk merehabilitasi lahan mangrove yang mengalami kerusakan. Upaya ini meliputi penanaman kembali jutaan bibit mangrove di kawasan pesisir kritis, dengan melibatkan masyarakat setempat dalam setiap tahapnya. Kolaborasi ini penting untuk memastikan keberlangsungan ekosistem dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
Komunitas lokal memainkan peranan kunci dalam menjaga dan merawat mangrove. Pengetahuan lokal dan kearifan tradisional yang mereka miliki menjadi modal penting dalam program rehabilitasi. Melalui pelatihan dan edukasi lingkungan, masyarakat pesisir didorong untuk aktif berkontribusi dalam pelestarian mangrove dan memanfaatkan sumber daya secara lestari.
Perlindungan mangrove memerlukan kolaborasi lintas negara. Dukungan dari lembaga internasional, pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan sektor swasta sangat penting dalam menyediakan pendanaan, teknologi, serta pengetahuan untuk mendukung upaya konservasi. Kolaborasi ini membantu mempercepat pencapaian target perlindungan dan rehabilitasi global.
Hutan mangrove tidak hanya penting dari sisi ekologis, tetapi juga memiliki nilai ekonomis tinggi. Selain menjadi benteng alami terhadap bencana alam, ekosistem ini mendukung mata pencaharian masyarakat pesisir, seperti nelayan, petani tambak, serta pengrajin produk turunan mangrove seperti madu dan batik pewarna alami. Potensi ini bisa dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pendekatan ekonomi hijau.
Meski upaya rehabilitasi terus digencarkan, tantangan besar tetap ada. Perubahan iklim, eksploitasi lahan, konversi kawasan menjadi permukiman atau tambak, serta penebangan liar, menjadi ancaman serius bagi kelestarian mangrove. Oleh karena itu, perlindungan mangrove membutuhkan pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Hari Mangrove Sedunia 2025 menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat dunia untuk memperkuat komitmen dalam menjaga ekosistem mangrove. Melalui kerja sama yang solid antara komunitas lokal, pemerintah, dan masyarakat global, kita dapat menjaga kelestarian mangrove demi masa depan bumi yang lebih sehat dan berkelanjutan.
