Listrik dunia ternyata masih digerakkan oleh sumber lama. Melansir data Visual Capitalist, sepanjang 2024 batu bara tetap menjadi penopang utama pembangkit listrik global, dengan kontribusi lebih dari sepertiga kebutuhan energi. Posisi kedua ditempati oleh gas alam yang menyumbang 22,4%. Sementara itu, energi terbarukan terus memperbesar perannya. Tenaga air (14,4%), angin (7,8%), dan surya (6,5%) kini secara kolektif sudah menyuplai lebih dari seperempat listrik dunia.
Meskipun transisi energi semakin digalakkan, banyak negara berkembang masih bergantung pada batu bara. India dan Tiongkok menjadi contoh nyata. Dengan populasi besar serta pertumbuhan industri yang pesat, kedua negara tersebut memerlukan pasokan energi yang stabil dan murah. Batu bara, dengan ketersediaan melimpah, masih dianggap sebagai pilihan logis.
Peralihan menuju energi bersih menghadapi tantangan serius. Biaya investasi tinggi, infrastruktur yang belum merata, serta kebutuhan energi yang terus naik membuat banyak negara sulit melepaskan ketergantungan dari batu bara. Energi terbarukan seperti angin dan surya memang semakin populer, namun kontribusinya belum cukup untuk menggantikan peran batu bara secara penuh.
Sejumlah negara berusaha menekan dampak lingkungan dari pembangkit listrik berbasis batu bara dengan menerapkan teknologi ramah lingkungan. Teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) menjadi salah satu solusi, meskipun penerapannya masih terbatas karena membutuhkan biaya besar.
Masa depan batu bara sebagai sumber energi masih diperdebatkan. Sebagian pihak yakin batu bara akan tetap menjadi komponen penting dalam bauran energi global, setidaknya dalam beberapa dekade ke depan. Namun, seiring berkembangnya teknologi energi terbarukan, porsi batu bara diprediksi perlahan akan menyusut.