PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi penguasa energi panas bumi di tingkat global. Potensi ini semakin terbuka apabila rencana penambahan kapasitas sebesar 5,2 gigawatt (GW) pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dapat direalisasikan sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru.
Saat ini, terdapat lebih dari 300 titik panas bumi yang tersebar di seluruh nusantara dengan kapasitas terpasang mencapai puluhan gigawatt. Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan potensi cadangan panas bumi terbesar kedua di dunia, tepat setelah Amerika Serikat.
CEO PNRE, John Anis, menegaskan bahwa Indonesia kini berada di posisi kedua global dalam pemanfaatan energi panas bumi. Namun, jika target penambahan kapasitas 5,2 GW dapat diwujudkan, bukan tidak mungkin Indonesia akan melampaui Amerika Serikat dan menjadi pemimpin dunia.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, pembangunan infrastruktur dan percepatan investasi menjadi faktor kunci. Pemerintah telah menetapkan target ambisius melalui proyek-proyek PLTP yang sedang berjalan maupun dalam tahap perencanaan. Dukungan dari investor asing juga diharapkan mampu mempercepat proses pengembangan.
Meski demikian, pengembangan panas bumi tidak terlepas dari tantangan. Biaya investasi yang tinggi serta risiko eksplorasi kerap menjadi kendala. Namun, dengan kemajuan teknologi serta dukungan kebijakan pemerintah, hambatan tersebut diyakini dapat diatasi.
Selain meningkatkan ketahanan energi nasional, pemanfaatan panas bumi juga membawa dampak positif bagi perekonomian serta lingkungan. Energi ini bersifat terbarukan, ramah lingkungan, dan mampu menekan emisi karbon. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan pada energi fosil, tetapi juga berkontribusi dalam upaya global melawan perubahan iklim.
Dengan potensi cadangan yang besar, dukungan kebijakan pemerintah, dan rencana penambahan kapasitas 5,2 GW, Indonesia berpeluang menyalip Amerika Serikat dan menjadi pemimpin dunia dalam energi panas bumi. Jika dikelola secara optimal, sektor ini dapat memberikan manfaat ekonomi yang signifikan sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam transisi menuju energi bersih.