PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) melihat peluang besar dalam pengembangan ASEAN Power Grid (APG), yakni jaringan listrik lintas negara di kawasan Asia Tenggara. Skema ini memungkinkan antarnegara untuk melakukan ekspor-impor listrik, sebagaimana yang telah lama diterapkan di kawasan Eropa.
CEO PNRE, John Anis, menegaskan bahwa Indonesia perlu mengantisipasi keberadaan APG karena peluang pasar listrik antarnegara semakin terbuka. Hal ini sejalan dengan meningkatnya permintaan energi bersih di kawasan Asia, di mana banyak negara mulai mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan beralih ke sumber energi terbarukan.
Sebagai salah satu pemain utama dalam sektor energi terbarukan di Indonesia, PNRE telah menyiapkan strategi ekspansi yang terarah. Selain membangun portofolio energi hijau dalam negeri, PNRE juga menjajaki kerja sama dengan perusahaan energi di kawasan ASEAN untuk memperkuat posisinya sekaligus memanfaatkan peluang transfer teknologi dan inovasi.
Meski prospeknya menjanjikan, John Anis mengakui bahwa pasar listrik lintas negara tidak lepas dari tantangan, mulai dari regulasi yang berbeda di tiap negara, kebutuhan infrastruktur pendukung, hingga persaingan dengan pemain global. Namun, PNRE optimistis pengalaman dan kompetensi yang dimiliki dapat menjadi modal penting untuk menembus pasar ini.
Ekspansi ke pasar regional melalui APG diyakini akan membawa manfaat tidak hanya bagi PNRE, tetapi juga bagi Indonesia. Selain memperkuat posisi Indonesia dalam transisi energi, peluang ini berpotensi meningkatkan devisa serta mendorong reputasi Indonesia sebagai salah satu motor penggerak energi terbarukan di Asia Tenggara.
PNRE melihat ASEAN Power Grid sebagai peluang emas untuk memperluas bisnis sekaligus mendukung pemenuhan energi bersih lintas negara. Dengan strategi ekspansi yang matang dan dukungan inovasi, PNRE optimistis mampu berperan besar dalam pasar listrik regional dan memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional.