Harga minyak mentah dunia tercatat melemah tipis pada perdagangan Selasa pagi (26/8/2025), Sehari sebelumnya, kedua acuan minyak sempat mencapai titik puncak, dengan WTI bahkan berhasil menembus rata-rata pergerakan 100 harinya. Lonjakan tersebut dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan dari Rusia, usai Ukraina melancarkan serangan ke infrastruktur energi Negeri Beruang Merah.
Serangan itu berdampak pada proses pengolahan dan ekspor minyak Rusia, yang memicu kelangkaan bensin di sejumlah wilayah. Kondisi ini disebut sebagai aksi balasan atas gempuran Rusia terhadap fasilitas energi Ukraina.
Selain faktor geopolitik, pelemahan harga juga dipengaruhi oleh kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi global. Data ekonomi dari Amerika Serikat menunjukkan perlambatan aktivitas manufaktur, yang memicu kekhawatiran permintaan energi akan menurun. Sentimen ini ikut menahan penguatan harga lebih lanjut.
Di sisi lain, pasar juga menantikan arah kebijakan dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+). Sejauh ini, OPEC+ masih mempertahankan kebijakan pemangkasan produksi secara hati-hati untuk menyeimbangkan harga di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian ekonomi. Namun, investor menilai perpanjangan atau perubahan kebijakan produksi akan sangat menentukan arah harga minyak dalam jangka pendek.
Faktor transisi energi global juga menjadi pertimbangan jangka menengah. Negara-negara konsumen utama, terutama di Eropa dan Asia, mulai mempercepat diversifikasi energi demi mengurangi ketergantungan pada minyak fosil. Jika tren ini berlanjut, permintaan minyak mentah berpotensi melambat, meski ketegangan geopolitik masih mendukung harga dalam jangka pendek.
Dengan berbagai faktor tersebut, analis memperkirakan volatilitas harga minyak akan tetap tinggi. Ketidakpastian geopolitik di Eropa Timur dan arah kebijakan OPEC+ akan menjadi penentu utama pergerakan harga dalam beberapa pekan ke depan.