Direktur Utama PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengungkapkan rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) hingga 7 gigawatt (GW) pada tahun 2040. Rencana ini akan masuk dalam Rancangan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2040. Sebelum mencapai kapasitas tersebut, pemerintah juga menargetkan pembangunan PLTN berkapasitas 500 megawatt (MW) pada periode 2025-2034.
Energi nuklir dianggap sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan listrik yang meningkat seiring pertumbuhan populasi dan ekonomi nasional. Dengan PLTN, Indonesia diharapkan memperoleh pasokan listrik yang stabil, berkelanjutan, dan lebih ramah lingkungan. Selain itu, pengembangan energi nuklir dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang selama ini menjadi sumber utama energi di Tanah Air.
Pemerintah Indonesia memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan PLTN melalui kebijakan yang mendukung investasi dan inovasi teknologi nuklir. Selain itu, kerjasama dengan negara-negara berpengalaman dalam teknologi nuklir menjadi fokus penting untuk memastikan transfer pengetahuan dan teknologi berjalan optimal.
PLTN diharapkan memberikan dampak positif bagi ekonomi nasional, termasuk menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan daya saing industri. Dari sisi lingkungan, energi nuklir menawarkan alternatif lebih bersih dibanding pembangkit berbahan bakar fosil, sehingga berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca.
Dengan rencana pembangunan PLTN hingga 7 GW pada 2040, Indonesia menunjukkan komitmennya untuk beralih ke sumber energi bersih dan berkelanjutan. Meski menghadapi tantangan, dengan dukungan pemerintah, PLN, dan kolaborasi internasional, Indonesia berpotensi menjadi pelopor penggunaan energi nuklir di kawasan Asia Tenggara.