Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini membentuk Badan Industri Mineral, yang memiliki tugas utama mengelola logam tanah jarang (rare earth element/REE). Langkah ini menjadi sorotan karena penunjukan Kepala Badan tidak diberikan kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, melainkan kepada Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto.
Brian Yuliarto adalah wajah baru di Kabinet Merah Putih, menjabat sebagai Mendiktisaintek sejak 19 Februari 2025 menggantikan Satryo Soemantri Brodjonegoro akibat reshuffle. Penempatan Brian menunjukkan strategi pemerintah untuk mengintegrasikan pengembangan teknologi dan pengolahan mineral domestik melalui kepemimpinan yang berfokus pada inovasi sains dan teknologi.
Pembentukan Badan ini bertujuan memperkuat posisi Indonesia dalam pengolahan logam tanah jarang, meningkatkan nilai tambah produk mineral di dalam negeri, dan mengurangi ketergantungan pada impor. Langkah ini juga diharapkan dapat meningkatkan daya tawar Indonesia di kancah internasional, terutama dalam negosiasi dengan negara-negara besar yang memiliki kepentingan di industri mineral global.
Inisiatif ini berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kapasitas pengolahan dan pengembangan teknologi mineral domestik. Namun, tantangan besar tetap ada, termasuk kebutuhan investasi infrastruktur yang besar serta pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Dengan membentuk Badan Industri Mineral dan menempatkan Brian Yuliarto sebagai kepala, Presiden Prabowo menegaskan komitmen untuk meningkatkan kemandirian Indonesia di sektor logam tanah jarang. Keberhasilan inisiatif ini akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menghadapi tantangan investasi, teknologi, dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.