Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam menekan laju emisi gas rumah kaca, salah satunya dari subsektor peternakan. Berdasarkan data 2024, total emisi dari subsektor ini mencapai 24.499 ton CO2 ekuivalen. Sebagian besar emisi tersebut berupa metana (CH4) yang dilepaskan melalui sendawa sapi serta penguraian kotoran ternak, termasuk kuda, babi, sapi potong, sapi perah, kerbau, kambing, dan domba. Angka ini menunjukkan besarnya kontribusi peternakan terhadap total emisi nasional.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menegaskan bahwa subsektor peternakan perlu mendapat perhatian serius dalam upaya penurunan emisi. KLHK mendorong berbagai strategi mitigasi, mulai dari penerapan teknologi ramah lingkungan hingga perbaikan tata kelola limbah ternak, agar dampaknya terhadap lingkungan bisa ditekan.
Salah satu pendekatan yang kini diprioritaskan adalah pemanfaatan teknologi hijau. Contohnya, penggunaan biogas dari kotoran ternak tidak hanya membantu menurunkan emisi, tetapi juga menghasilkan energi alternatif yang dapat digunakan masyarakat. Selain itu, sistem pengolahan limbah yang lebih modern diharapkan mampu mengurangi pelepasan metana ke atmosfer.
Selain aspek teknologi, peningkatan pengetahuan peternak juga dinilai krusial. KLHK merencanakan program pelatihan dan sosialisasi praktik peternakan berkelanjutan, sehingga peternak bisa menerapkan metode yang lebih ramah lingkungan dalam kegiatan sehari-hari. Dengan pendekatan ini, perubahan perilaku di tingkat akar rumput diharapkan dapat mempercepat penurunan emisi.
Untuk memperkuat upaya mitigasi, KLHK menjalin kerja sama dengan sektor swasta, akademisi, dan lembaga internasional. Kolaborasi ini diharapkan menghadirkan inovasi, transfer teknologi, sekaligus investasi yang diperlukan untuk mendorong transformasi subsektor peternakan menuju keberlanjutan.
Meski sejumlah langkah telah ditempuh, pengendalian emisi dari subsektor peternakan tetap menghadapi tantangan. Diperlukan konsistensi kebijakan, dukungan finansial, serta kesadaran masyarakat yang lebih luas. Dengan sinergi semua pihak, Indonesia diharapkan dapat memenuhi target penurunan emisi sekaligus memastikan keberlanjutan subsektor peternakan dalam jangka panjang.
Catatan emisi gas rumah kaca dari subsektor peternakan Indonesia yang mencapai 24.499 ton CO2 ekuivalen pada 2024 menjadi alarm penting bagi keberlanjutan lingkungan. Melalui kombinasi teknologi ramah lingkungan, edukasi peternak, serta kolaborasi multi-pihak, KLHK optimistis langkah mitigasi dapat berjalan efektif. Upaya ini bukan hanya relevan untuk agenda iklim global, tetapi juga penting demi ketahanan pangan dan ekonomi nasional.
