Praktisi migas senior, Hadi Ismoyo, mengusulkan agar pemerintah Indonesia memulai impor bahan bakar minyak (BBM) dengan volume konsumsi rendah seperti Pertamax Turbo, jika ingin mengalihkan sumber impor dari Singapura ke Amerika Serikat (AS). Usulan ini muncul setelah PT Pertamina (Persero) membuka opsi impor Pertalite dari AS untuk mengantisipasi kebutuhan saat libur panjang Natal dan Tahun Baru 2026.
Hadi menekankan bahwa impor dari AS memerlukan persiapan yang lebih panjang dibandingkan dengan Singapura. Proses administrasi, termasuk pengurusan kepabeanan dan cukai, serta perjalanan kapal tanker, diperkirakan memakan waktu antara 30 hingga 60 hari. Sebagai Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC), Hadi menyarankan Pertamina untuk menyiapkan alternatif pasokan guna memenuhi kebutuhan Pertalite dari AS.
Menurut Hadi, memulai impor dari bensin dengan konsumsi rendah adalah langkah bijak. “Jika terjadi antrian panjang dan stok tidak siap, ini bisa menjadi isu nasional dan merusak citra pemerintah,” ujarnya. Meski demikian, Hadi optimis bahwa dengan usaha ekstra dari pemerintah dan Pertamina, proses pengiriman BBM dari AS dapat dipercepat menjadi 15 hingga 20 hari.
Hadi juga mengingatkan bahwa cuaca dan kepadatan pelabuhan menjelang akhir tahun bisa memperpanjang waktu pengangkutan. Oleh karena itu, ia mendorong Pertamina dan pemerintah untuk melakukan simulasi impor dari AS sebelum memutuskan langkah lebih lanjut. “Jika setelah simulasi detail, BBM AS tidak sampai ke Indonesia sebelum Nataru, dengan parameter yang sudah diketahui, akan mudah dilakukan simulasi,” tegasnya.
Pertamina Patra Niaga berencana menambah pasokan Pertalite hingga 1,4 juta kiloliter pada akhir tahun ini. Selain pasokan domestik, opsi impor Pertalite dari AS juga dibuka. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menyatakan bahwa penyaluran BBM bersubsidi saat ini sekitar 1% hingga 5% di bawah target kuota tahun ini. Rencana impor dari AS diperkirakan mencapai 40% dari total pengadaan.
Data per 25 November 2025 menunjukkan ketahanan stok Pertalite sekitar 17 hari, Pertamax 22 hari, Pertamax Turbo 13 hari, Pertamina Dex 15 hari, Solar 14 hari, dan avtur 25 hari. Sementara itu, ketahanan stok LPG 3 Kg mencapai 13 hari menjelang libur panjang Nataru 2025–2026.
VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menambahkan bahwa perusahaan masih menunggu arahan dari pemerintah terkait penugasan impor sejumlah komoditas migas dari AS. “Kami juga tetap menunggu arahan dari pemerintah terkait dengan penugasan ini. Kami perlu dasar hukum yang kuat dan kehati-hatian dalam pelaksanaannya,” kata Baron.Impor BBM dari AS menawarkan peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia. Dengan persiapan yang matang dan simulasi yang tepat, diharapkan proses ini dapat berjalan lancar dan memenuhi kebutuhan energi nasional tanpa mengganggu stabilitas pasokan. Pemerintah dan Pertamina perlu bekerja sama secara efektif untuk mengatasi berbagai kendala yang mungkin muncul dalam proses ini.
