Pemerintahan Donald Trump berencana untuk terus menggunakan wewenang darurat guna mencegah penutupan pembangkit listrik bertenaga batu bara. Kebijakan ini, yang diungkapkan oleh sumber anonim, menunjukkan prioritas utama Trump untuk memperkuat penggunaan bahan bakar fosil demi stabilitas ekonomi dan energi nasional.
Departemen Energi AS telah mengeluarkan perintah darurat untuk menghentikan penghentian operasional dua pembangkit listrik fosil. Rencana serupa akan diterapkan pada pembangkit lainnya. Meskipun wewenang darurat biasanya hanya digunakan dalam situasi bencana alam atau perang, badan tersebut kini menerapkannya untuk mencegah penutupan pembangkit listrik batu bara milik Consumers Energy di Michigan dan pembangkit minyak dan gas milik Constellation Energy Corp. di Pennsylvania.
Kebijakan ini diambil berdasarkan keyakinan bahwa menutup pembangkit listrik batu bara yang masih beroperasi akan menaikkan harga listrik dan menghambat upaya reindustrialisasi ekonomi AS. Hal ini sejalan dengan pandangan pemerintahan Trump yang menganggap penutupan pembangkit listrik berbahan bakar fosil sebagai ancaman terhadap jaringan listrik, terutama di tengah lonjakan permintaan yang didorong oleh teknologi kecerdasan buatan (AI).
Di saat yang sama, pemerintahan Trump juga mengambil langkah-langkah yang merugikan energi terbarukan. Mereka telah menghentikan proyek pembangkit listrik tenaga angin dan meluncurkan kebijakan yang tidak menguntungkan bagi energi surya. Langkah-langkah ini menuai kritik dari regulator dan aktivis lingkungan yang berpendapat bahwa tidak ada keadaan darurat yang membenarkan kebijakan tersebut, dan bahwa langkah ini justru akan meningkatkan biaya listrik bagi konsumen.
